Ahad 24 Jul 2022 08:12 WIB

Wabah Cacar Monyet Dilabeli Darurat Kesehatan Global, Banyak Hinggapi Pria Homoseksual

WHO menyebut penyebaran Cacar Monyet sebenarnya moderat kecuali di Eropa

Rep: Kamran Dikamra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Asal usul cacar monyet. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), Sabtu (23/7). WHO telah mengonfirmasi setidaknya 16 ribu kasus penyakit tersebut di lebih dari 75 negara.
Foto: Republika
Asal usul cacar monyet. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), Sabtu (23/7). WHO telah mengonfirmasi setidaknya 16 ribu kasus penyakit tersebut di lebih dari 75 negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), Sabtu (23/7/2022). WHO telah mengonfirmasi setidaknya 16 ribu kasus penyakit tersebut di lebih dari 75 negara.

“Meskipun saya menyatakan PHEIC, untuk saat ini wabah (cacar monyet) terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan seksual,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dia menjelaskan, kendati dinyatakan sebagai PHEIC, risiko wabah cacar monyet moderat secara global, kecuali di Eropa. Ghebreyesus mengungkapkan, risiko penyebaran atau penularan penyakit tersebut tinggi di Benua Biru.

Penetapan PHEIC dirancang untuk memicu respons internasional yang terkoordinasi. Dengan status tersebut, pendanaan untuk berkolaborasi dalam berbagi vaksin dan perawatan dapat dibuka. Para pakar kesehatan menyambut keputusan WHO menetapkan cacar monyet sebagai PHEIC.

Kepala epidemi dan epidemiologi di Wellcome Trust, Josie Golding, mengatakan, keputusan WHO akan membantu mengekang penyebaran cacar monyet. “Kita tidak bisa terus menunggu penyakit meningkat sebelum kita melakukan intervensi,” ucapnya.

Pendapat serupa disampaikan peneliti senior kesehatan global di Southampton University, Michael Head. Menurut dia, dengan ditetapkannya cacar monyet sebagai PHEIC, WHO dapat membantu donor seperti Bank Dunia untuk menyediakan dana guna menghentikan penyebaran wabah, baik di Barat maupun Afrika. “Saya pikir akan lebih baik untuk proaktif dan bereaksi berlebihan terhadap masalah daripada menunggu untuk bereaksi ketika sudah terlambat,” katanya.

Akhir Juni lalu, otoritas kesehatan Uni Eropa telah membeli lebih dari 100 ribu vaksin cacar untuk menangani penyebaran kasus cacar monyet di benua tersebut. Menurut Komisi Eropa, sebanyak 5.300 dosis vaksin Bavarian Nordic A/S sudah dikirim ke Spanyol. Portugal, Jerman, dan Belgia akan menerima dosis berikutnya. Proses pengiriman lebih lanjut dilakukan bulan ini dan Agustus.

Vaksin tersebut dibeli oleh Health Emergency Preparedness and Response Authority (HERA). Ini merupakan pertama kalinya Uni Eropa, lewat HERA, secara langsung membeli dan menyumbangkan vaksin ke negara-negara anggota. 

WHO telah memutuskan menghapus perbedaan antara negara endemik dan non-endemik dalam kasus cacar monyet. Hal itu guna mengintegralkan respons terhadap penyebaran penyakit tersebut. “Kami menghapus perbedaan antara negara-negara endemik dan non-endemik, melaporkan negara-negara bersama jika memungkinkan, untuk mencerminkan tanggapan terpadu yang diperlukan,” kata WHO dalam pembaruan situasi wabah cacar monyet tertanggal 17 Juni.

Sebelumnya cacar monyet hanya dianggap endemik di Afrika.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement