Rabu 14 Dec 2022 12:09 WIB

RS di Beijing Kewalahan Hadapi Gelombang Infeksi Covid-19

RS China telah meningkatkan kapasitas bangsal untuk memenuhi gelombang pasien Covid.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha
Petugas polisi paramiliter China yang mengenakan masker berjaga di pos mereka di dekat pajangan peringatan agar tidak menyembunyikan gejala COVID-19 di terminal bandara Capital di Beijing, Selasa, 13 Desember 2022. Beberapa universitas China mengatakan mereka akan mengizinkan siswa menyelesaikan semester dari rumah dengan harapan dapat mengurangi potensi wabah COVID-19 yang lebih besar selama kesibukan perjalanan Tahun Baru Imlek di bulan Januari.
Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Petugas polisi paramiliter China yang mengenakan masker berjaga di pos mereka di dekat pajangan peringatan agar tidak menyembunyikan gejala COVID-19 di terminal bandara Capital di Beijing, Selasa, 13 Desember 2022. Beberapa universitas China mengatakan mereka akan mengizinkan siswa menyelesaikan semester dari rumah dengan harapan dapat mengurangi potensi wabah COVID-19 yang lebih besar selama kesibukan perjalanan Tahun Baru Imlek di bulan Januari.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Rumah Sakit di Beijing dan beberapa kota besar Cina berada di bawah tekanan yang sangat besar menyusul peningkatan kasus Covid-19. Dokter dan perawat dikhawatirkan dapat menulari pasien karena mereka sendiri terpapar.

Pekerja medis garis depan tetap diperintahkan untuk bekerja karena kekurangan stafnya. Beijing sendiri melaporkan hanya 1.027 kasus baru pada Selasa (13/12/2022) waktu setempat, namun skala kasus sebenarnya diyakini jauh lebih besar, dengan penduduk tidak lagi diharuskan melakukan tes PCR atau melaporkan hasil tes antigen mereka.

Baca Juga

Seorang profesor China yang berspesialisasi dalam kebijakan kesehatan telah memantau krisis di negara asalnya dari Universitas Yale di Amerika Serikat (AS). Chen Xi mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan direktur rumah sakit dan staf medis lainnya di China tentang tekanan besar pada sistem saat ini.

"Orang yang telah terinfeksi diharuskan bekerja di rumah sakit yang menciptakan lingkungan penularan di sana," katanya seperti dikutip BBC, Rabu (14/12/2022).

Rumah sakit China sejak pekan lalu meningkatkan kapasitas bangsal demam mereka untuk memenuhi gelombang besar pasien. Bangsal-bangsal tersebut kemudian telah terisi dengan cepat, meskipun ada pesan yang masih beredar bahwa "tidak apa-apa untuk tinggal di rumah jika Anda tertular virus".

Chen mengatakan masih banyak yang harus dilakukan untuk menjelaskan hal ini kepada orang-orang. "Tidak ada budaya tinggal di rumah untuk gejala ringan," katanya. 

"Ketika orang merasa sakit, mereka semua pergi ke rumah sakit, yang dapat dengan mudah merusak sistem perawatan kesehatan," imbuhnya.

Serbuan apotek oleh para warga juga telah menyebabkan kekurangan obat yang signifikan di seluruh negeri. Banyak warga mencari obat pilek dan flu. Kit pengujian mandiri untuk Covid-19 juga sulit didapat.

Di Beijing, meskipun restoran diizinkan buka kembali, pelanggan mereka sangat sedikit dan jalanan sepi. Perusahaan memberitahu karyawan bahwa mereka harus kembali ke kantor, tetapi banyak yang tidak mau.

Beijing dan kota-kota besar lainnya mencoba secara bertahap untuk mengakhiri larangan perjalanan dan pembatasan lainnya serta mencoba hidup dengan virus. Pelonggaran aturan oleh pemerintah China ini menyusul protes massa menuntut pencabutan aturan ketat pemerintah atas kebijakan nol-Covid.

Protes meletus pada 25 November setelah 10 orang tewas dalam kebakaran di Urumqi, Xinjiang. Massa beropini penyebab kebakaran karena penjagaan imbas dari aturan ketat Covid.

Para korban yang ingin melarikan diri maupun petugas pemadam kebakaran diblokir oleh pintu yang terkunci atau tindakan anti-virus lainnya. Namun pihak berwenang membantahnya, meski tetap saja bencana tersebut menjadi fokus kemarahan publik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement