Selasa 10 Jan 2023 08:30 WIB

AS: Iran Kemungkinan Berkontribusi pada Kejahatan Perang di Ukraina

Tuduhan AS itu merujuk pada penjualan drone Iran ke Rusia untuk invasi ke Ukraina

Rep: Dwina Agustin, Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Prajurit Ukraina menembak ke arah posisi Rusia di garis depan dekat Kherson, Ukraina selatan, Rabu, 23 November 2022. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Senin (9/1/2023), Iran kemungkinan berkontribusi pada kejahatan perang yang meluas. Tuduhan itu merujuk pada penjualan drone atau pesawat tanpa awak  ke Rusia untuk digunakan dalam invasi yang sedang berlangsung ke Ukraina.
Foto: AP Photo/Bernat Armangue
Prajurit Ukraina menembak ke arah posisi Rusia di garis depan dekat Kherson, Ukraina selatan, Rabu, 23 November 2022. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Senin (9/1/2023), Iran kemungkinan berkontribusi pada kejahatan perang yang meluas. Tuduhan itu merujuk pada penjualan drone atau pesawat tanpa awak ke Rusia untuk digunakan dalam invasi yang sedang berlangsung ke Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY -- Pemerintahan Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Senin (9/1/2023), Iran kemungkinan berkontribusi pada kejahatan perang yang meluas. Tuduhan itu merujuk pada penjualan drone atau pesawat tanpa awak  ke Rusia untuk digunakan dalam invasi yang sedang berlangsung ke Ukraina.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengatakan, Teheran telah memilih senjatanya digunakan untuk membunuh warga sipil di Kiev. "Mencoba untuk menjerumuskan kota ke dalam dingin dan gelap, yang dari sudut pandang kami, menempatkan Iran di tempat yang berpotensi berkontribusi terhadap kejahatan perang yang meluas," ujarnya.

Baca Juga

Tuduhan Sullivan terhadap Iran ini muncul ketika memberikan keterangan saat menemani Biden dalam perjalanan ke Meksiko. Meskipun tidak menandakan perubahan kebijakan, tuduhan itu menandai beberapa retorika paling tajam AS sejak Iran mulai menyediakan senjata ke Rusia untuk mendukung perangnya yang berlangsung hampir setahun di Ukraina.

Sullivan menunjuk sanksi Eropa dan AS terhadap Iran diberlakukan setelah AS mengungkap penjualan senjata Iran ke Rusia tahun lalu sebagai contoh cara membuat transaksi lebih sulit. Namun, dia mengakui, cara mereka melakukannya secara fisik membuat larangan fisik itu menjadi tantangan.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan, pada Senin (9/1/2023), bahwa AS telah menyumbangkan uang, keahlian, dan dukungan logistik lainnya untuk penyelidik Ukraina dan internasional dalam menyelidiki tuduhan kejahatan perang. Dia mengatakan, penyelidikan itu bisa melampaui tindakan Rusia.

"Jika dalam pekerjaan itu kami berada dalam posisi untuk menentukan bahwa pemerintah Iran secara keseluruhan, atau bahwa pejabat senior Iran terlibat atau bertanggung jawab atas kejahatan perang, kami akan bekerja untuk meminta pertanggungjawaban mereka juga," kata Price.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement