Jumat 10 Feb 2023 13:06 WIB

Jumlah Kelahiran Terus Turun, Cina Disingkirkan India

Angka kelahiran terus menurun dan jumlah populasi tua yang lebih banyak di Cina.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Penduduk Beijing mengenakan masker saat berjalan di jalanan Ibu Kota Cina. tingkat kesuburan di India lebih tinggi daripada di Cina dan Amerika Serikat (AS) yang menempati posisi ketiga.
Foto: AP
Penduduk Beijing mengenakan masker saat berjalan di jalanan Ibu Kota Cina. tingkat kesuburan di India lebih tinggi daripada di Cina dan Amerika Serikat (AS) yang menempati posisi ketiga.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Ketika India akan mencapai puncak populasi dunia, berarti ada negara yang mulai kekurangan jumlah populasinya. Kondisi ini tidak dipungkiri dengan rendahnya angka kelahiran yang terus menurun dan jumlah populasi tua yang lebih banyak di Cina.

Menurut laporan Bank Dunia per 2021, Cina masih menduduki jumlah populasi tertinggi di dunia dengan 1.412 miliar jiwa. Sedangkan India berada di posisi kedua dengan lebih dari 1.408 miliar jiwa.

Selisih jumlah ini sangat sedikit dan diprediksi tidak akan lama lagi India akan menjadi negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengharapkan bahwa India akan menyusul jumlah populasi Cina pada bulan April. Padahal Beijing telah memegang rekor tersebut setidaknya sejak 1950.

Menurut hasil analisa pewresearch, salah satu alasan tersingkirnya Cina akibat tingkat kesuburan di India lebih tinggi daripada di Cina dan Amerika Serikat (AS) yang menempati posisi ketiga. Angka kelahiran di Beijing dan Washington telah menurun dengan cepat dalam beberapa dekade terakhir.

Saat ini, rata-rata perempuan India diharapkan memiliki 2.0 anak seumur hidupnya, tingkat kesuburan yang lebih tinggi dari Cina dengan (1,2) atau AS (1,6). Muslim masih memiliki tingkat kesuburan tertinggi di antara kelompok agama utama India, tetapi kesenjangan dalam melahirkan anak di antara kelompok agama India umumnya jauh lebih kecil daripada sebelumnya.

Kondisi ini sejalan dengan laporan macrotrend yang menyatakan, angka kelahiran global pada 2022 adalah 17.668 kelahiran per 1000 orang, turun 1,15 persen dari 2021. Sedangkan angka kelahiran global pada 2021 adalah 17.873 kelahiran per 1000 orang, turun 1,13 persen dari 2020.

Selain angka kelahiran yang menurun, Cina dan AS juga memiliki populasi yang menua dengan cepat, tidak seperti India. Menurut laporan PBB, orang dewasa berusia 65 tahun ke atas hanya terdiri dari tujuh persen dari populasi India pada tahun ini, dibandingkan dengan 14 persen di China dan 18 persen di AS. Sedangkan menurut proyeksi PBB, porsi orang India yang berusia 65 tahun ke atas kemungkinan akan tetap di bawah 20 persen hingga 2063 dan tidak akan mendekati 30 persen hingga 2100.

Kondisi yang terjadi di Cina dan AS ini pun nyatanya banyak negara yang mengalami di berbagai wilayah, termasuk Asia dan Eropa. Contoh saja Italia yang melaporkan pada akhir tahun 2022, populasinya telah turun di bawah 59 juta penduduk atau Prancis yang sedang mendorong kenaikan usia pensiun akibat angka kelahiran yang terus menurun.

Sedangkan di Asia, Badan statistik Korea Selatan (Korsel) mengumumkan pada September tahun lalu, tingkat kesuburan total yang dihitung dari jumlah rata-rata bayi yang lahir dari setiap perempuan di tahun-tahun reproduksi hanya 0,81 tahun lalu. Jumlah itu adalah terendah di dunia untuk tahun ketiga berturut-turut.

Hanya sekitar 260.600 bayi lahir di Korsel tahun lalu, turun dari 691.200 pada 1996 dan puncaknya dengan sejuta bayi lahir pada 1971. Angka terakhir ini merupakan yang terendah sejak badan statistik mulai mengumpulkan data tersebut pada 1970.

Tapi meski negara mengalami penurunan jumlah kelahiran, nyatanya populasi dunia terus bertambah. Menurut laporan PBB, populasi dunia melonjak melewati delapan miliar orang sejak September 2022. Negara-negara berpenghasilan menengah yang sebagian besar di Asia menyumbang sebagian besar pertumbuhan itu dengan memperoleh sekitar 700 juta jiwa sejak 2011.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement