Kamis 16 Feb 2023 06:13 WIB

Survei: Warga AS tidak Percaya pada Laporan Media

Media dinilai memberikan informasi yang salah.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Membaca berita di ponsel pintar (ilustrasi). Gallup dan Knight Foundation merilis survei terbaru yang mengejutkan tentang kepercayaan terhadap media pada Rabu (15/2/2023). Hasil survei di Amerika Serikat (AS) ini menunjukkan kedalaman ketidakpercayaan dan perasaan buruk yang melampaui dasar dan proses jurnalisme.
Foto: VOA/Reuters
Membaca berita di ponsel pintar (ilustrasi). Gallup dan Knight Foundation merilis survei terbaru yang mengejutkan tentang kepercayaan terhadap media pada Rabu (15/2/2023). Hasil survei di Amerika Serikat (AS) ini menunjukkan kedalaman ketidakpercayaan dan perasaan buruk yang melampaui dasar dan proses jurnalisme.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Gallup dan Knight Foundation merilis survei terbaru yang mengejutkan tentang kepercayaan terhadap media pada Rabu (15/2/2023). Hasil survei di Amerika Serikat (AS) ini menunjukkan kedalaman ketidakpercayaan dan perasaan buruk yang melampaui dasar dan proses jurnalisme.

Separuh orang AS dalam survei mengindikasikan mereka yakin organisasi berita nasional berniat untuk menyesatkan. Media dinilai memberikan informasi yang salah atau membujuk publik untuk mengadopsi sudut pandang tertentu melalui pelaporannya.

Baca Juga

Survei ini melampaui hasil temuan lain yang telah menunjukkan tingkat kepercayaan rendah di media ke titik mengejutkan. Dalam hasil sebelumnya, masyarakat banyak yang percaya ada niatan untuk menipu.

Dalam survei kali ini, peserta ditanya apakah mereka setuju dengan pernyataan bahwa organisasi berita nasional tidak bermaksud menyesatkan. Jawaban dari itu menunjukkan 50 persen mengatakan tidak setuju dan hanya 25 persen yang setuju.

Sedangkan 52 persen tidak setuju dengan pernyataan penyebar berita nasional peduli dengan kepentingan terbaik pembaca, pemirsa, dan pendengarnya. Sebanyak 23 persen responden percaya jurnalis bertindak demi kepentingan publik.

“Itu sangat mengejutkan bagi kami,” kata konsultan Gallup Sarah Fioroni.

Menurut survei tersebut, wartawan perlu melampaui penekanan transparansi dan akurasi untuk menunjukkan dampak pelaporannya pada publik. "Orang Amerika tampaknya tidak berpikir organisasi berita nasional peduli dengan dampak keseluruhan dari liputannya terhadap masyarakat,” kata Direktur Senior Media dan Demokrasi Knight John Sands.

Dalam hasil yang sedikit baik, dalam kedua kasus tersebut, orang AS lebih percaya pada berita lokal.

Kemampuan banyak orang untuk mempelajari berita secara instan dari perangkat yang dipegang, kecepatan siklus berita yang cepat, dan peningkatan jumlah sumber berita akan menunjukkan bahwa lebih banyak warga yang mengetahui berita daripada sebelumnya. Sedangkan informasi yang berlebihan tampaknya memiliki efek sebaliknya. Survei mengatakan, 61 persen warga AS percaya faktor-faktor ini membuat lebih sulit untuk tetap mendapat informasi, sementara 37 persen mengatakan lebih mudah.

Seperti banyak penelitian lainnya, Knight dan Gallup menemukan pemilih Partai Demokrat lebih mempercayai berita daripada Republikan. Selama lima tahun terakhir, tingkat ketidakpercayaan telah meningkat terutama di kalangan independen. Secara keseluruhan, 55 persen responden mengatakan, ada banyak bias politik dalam liputan, dibandingkan 45 persen pada 2017.

Sebuah temuan tecermin dalam perjuangan keuangan beberapa organisasi berita dan penurunan peringkat jaringan berita televisi. Survei tersebut menemukan 32 persen orang Amerika mengatakan, sangat memperhatikan berita lokal, dibandingkan dengan 56 persen pada awal 2020. Ini awal tahun pemilihan presiden dan awal wabah Covid-19.

Dalam gambaran tentang bagaimana orang mendapatkan berita, 58 persen mengatakan daring, 31 persen televisi, tujuh persen radio, dan tiga persen menyebutkan surat kabar atau majalah cetak. Untuk anggota Gen Z berusia 18 hingga 25 tahun sebanyak 88 persen mengatakan, mereka mendapatkan berita secara daring.

Hasil survei didasarkan pada studi Gallup terhadap 5.593 orang Amerika berusia 18 tahun ke atas. Survei ini dilakukan antara 31 Mei hingga 21 Juli 2022. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement