Ahad 12 Mar 2023 12:43 WIB

Arab Saudi dan Iran Kembali Mesra, Apa Dampaknya dan Siapa Gelisah?

Keharmonisan Arab Saudi dan Iran memicu beragam tanggapan

Dalam foto yang dirilis oleh Nournews ini, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, kanan, berjabat tangan dengan diplomat paling senior China Wang Yi, saat Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi Musaad bin Mohammed al-Aiban terlihat saat upacara penandatanganan perjanjian antara Iran dan Arab Saudi untuk membangun kembali hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan setelah tujuh tahun ketegangan antara rival Timur Tengah, di Beijing, China, Jumat (10/3/2023).
Foto:

Di Yaman, Arab Saudi berusaha memulihkan pemerintahan Sunni yang terdesak oleh oposisi Syiah, Houthi, yang didukung Iran.

Dalam empat medan ini, Arab audi bukan menjadi pihak pemenang. Assad tak kunjung bisa ditumbangkan, Houthi makin berjaya di Yaman, faksi-faksi Sunni Lebanon tak pernah bisa lebih kuat ketimbang Hizbullah, dan Irak sudah bukan lagi diperintah minoritas Sunni sejak diktator Saddam Husein digulingkan pasukan multinasional pimpinan Amerika Serikat.

Hubungan kedua negara selalu naik turun, bahkan pada 2016 Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran setelah demonstran Iran menduduki misi diplomatik Arab Saudi di Teheran akibat eksekusi hukuman mati ulama Syiah terkenal di Arab Saudi, Nimr al-Nimr.

Arab Saudi agaknya menjadi pihak yang berusaha tak lagi terlalu ideologistis, apalagi belakangan ini Arab Saudi cenderung berorientasi ke dalam negeri yang membuatnya tak mau lagi memproyeksikan kekuatannya di luar negeri secara berlebihan, kecuali ada insentif ekonomi yang jelas.

Ada kesadaran luas di Arab Saudi bahwa konflik-konflik eksternal hanya menyedot energi Arab Saudi tanpa mendapatkan apa-apa. Khusus dalam konflik di Yaman, Arab Saudi merasa berjuang sendirian menghadapi Iran.

Di samping itu, Arab Saudi mendapati kenyataan bahwa semua negara, termasuk Amerika Serikat, kini lebih mementingkan kepentingan politik dalam negerinya. Kecenderungan ini dibuka terang-terang oleh Donald Trump sewaktu memimpin Amerika Serikat.

Tak berlebihan jika langkah Arab Saudi dalam menormalisasi hubungan dengan Iran adalah bagian dari orientasi politik yang juga mementingkan dahulu kepentingan nasionalnya atau?

Baca juga: Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar?

Arab Saudi mungkin tak peduli orang mengatakan normalisasi hubungan dengan Iran sebagai bentuk kekalahan politik mereka dari Iran.

Arab Saudi, tepatnya Pangeran Muhammad bin Salman, mungkin berpikir, jika tak ada insentif dari setiap ekspedisi politik Arab Saudi di luar negeri, maka buat apa melanjutkan kebijakan yang malah mengancam eksistensi mereka.

Namun, belum tentu juga Iran bertepuk dada telah menjadi kekuatan regional tak tertandingi, sehingga bebas dalam bermanuver di Timur Tengah atau bahkan dunia Islam.

Ketiadaan lawan yang sepadan malah bisa membuat Iran menekan petualangan politiknya di luar negeri yang memang mahal, sehingga melalaikan kondisi domestiknya, apalagi jika masyarakat kawasan sudah tak melihat perlunya mengeraskan pertarungan ideologis, khususnya antara Syiah dan Sunni.

Israel gelisah

Sebaliknya, normalisasi hubungan diplomatik dengan Arab Saudi bisa berpengaruh baik terhadap kawasan yang akhirnya menaikkan citra kedua negara. Berhentinya permusuhan antara kedua negara, adalah juga bisa berarti mereda atau bahkan berhentinya konflik di Yaman, Suriah, Lebanon, dan kawasan-kawasan lain.

 

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement