Selasa 28 Mar 2023 15:16 WIB

Kota Hantu di Negara dengan Populasi Terbanyak Sedunia

Bertahun-tahun, sekolah-sekolah di kota ini menghadapi masalah yang tidak biasa.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Bendera India (Ilustrasi). Kumbanad, sebuah kota di negara bagian Kerala, India, bergulat dengan konsekuensi dari masyarakat yang menua.
Foto: IST
Bendera India (Ilustrasi). Kumbanad, sebuah kota di negara bagian Kerala, India, bergulat dengan konsekuensi dari masyarakat yang menua.

REPUBLIKA.CO.ID, KUMBANAD -- India mengambil alih Cina sebagai negara terpadat di dunia. Hanya saja, Kumbanad, sebuah kota di negara bagian Kerala bergulat dengan konsekuensi dari masyarakat yang menua.

Selama bertahun-tahun, sekolah-sekolah di kota ini menghadapi masalah yang tidak biasa, siswa langka hingga guru harus mencarinya. Mereka juga harus membayar dari kantong pribadi untuk membawa siswa ke sekolah.

Baca Juga

Sebuah sekolah dasar negeri berusia 150 tahun di Kumbanad memiliki 50 siswa, turun dari sekitar 700 pada akhir 1980-an. Sekolah yang mendidik anak hingga usai 14 tahun ini sebagian besar berasal dari keluarga miskin dan kurang mampu yang tinggal di pinggir kota. Dengan hanya tujuh siswa, kelas tujuh adalah kelas terbesar. Pada 2016, kelas tersebut hanya memiliki satu siswa.

Mendapatkan cukup banyak siswa ke sekolah adalah sebuah tantangan. Masing-masing dari delapan guru harus membayar 2.800 rupee setiap bulan untuk membayar becak otomatis yang mengangkut siswa dari rumah ke sekolah dan kembali. Mereka juga pergi dari pintu ke pintu mencari murid. Bahkan beberapa sekolah swasta di daerah itu mengirimkan guru untuk mencari siswa dengan sekolah paling banyak hanya memiliki sekitar 70 siswa saja.

"Apa yang bisa kami lakukan? Tidak ada anak di kota ini. Maksud saya, hampir tidak ada orang yang tinggal di sini," kata kepala sekolah Jayadevi R dikutip dari //BBC//.

Jayadevi benar. Kumbanad terletak di jantung distrik Pathanamthitta Kerala dengan populasi terus menurun dan menua.

Kumbanad dan setengah lusin desa hijau di sekitarnya adalah rumah bagi sekitar 25 ribu orang. Menurut kepala dewan desa setempat Asha CJ, Ssekitar 15 persen dari 11.118 rumah di sini terkunci karena pemiliknya pindah atau tinggal bersama anak-anak mereka di luar negeri.

Satu rumah sakit, klinik milik negara, lebih dari 30 pusat diagnostik dan tiga panti jompo adalah petunjuk populasi yang mulai memutih. Lebih dari dua lusin bank, bersaing untuk mendapatkan pengiriman uang dari penduduk kota yang tinggal dan bekerja di seluruh dunia. Sekitar 10 persen dari 100 miliar dolar AS dalam pengiriman uang yang diambil India dari warganya yang tinggal di luar negeri tahun lalu datang ke Kerala.

Kerala adalah semacam tempat asing di India yang padat. peningkatan dekade dalam populasi di sini antara 2001 hingga 2011 paling rendah di antara negara bagian lain dengan hanya 4,9 persen. Seorang bayi baru lahir di Kerala dapat berharap untuk hidup selama 75 tahun dibandingkan dengan rata-rata nasional 69 tahun.

Tingkat kesuburan di negara bagian telah turun di bawah tingkat penggantian, 1,7 hingga 1,9 kelahiran per perempuan setidaknya selama 30 tahun. Keluarga yang lebih kecil memastikan bahwa anak-anak dididik dengan baik. Hal ini menyebabkan kaum muda bermigrasi dengan cepat di dalam dan luar negeri untuk mencari peluang, meninggalkan orang tua di rumah.

"Pendidikan membuat anak-anak bercita-cita untuk pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik, dan mereka bermigrasi," kata Prof KS James dari International Institute for Population Sciences yang berbasis di Mumbai.

"Tempat asal mereka kemudian dihuni oleh orang tua mereka yang sudah lanjut usia, banyak dari mereka yang tinggal sendiri," ujarnya.

Contoh saja Annamma Jacob yang berusia 74 tahun. Di balik gerbang keamanan logam tinggi dari rumahnya yang berlantai dua dengan ubin merah di Kumbaud, Jacob telah tinggal sendiri selama yang dia ingat. Suaminya seorang insinyur mesin di perusahaan minyak milik negara meninggal dunia pada awal 1980-an.

Sedangkan anak laki-laki yang berusia 50 tahun telah tinggal dan bekerja di Abu Dhabi selama lebih dari dua dekade. Seorang putri tinggal beberapa kilometer jauhnya, tetapi suaminya telah bekerja sebagai insinyur perangkat lunak di Dubai selama tiga dekade.

Jacob pun tidak memiliki tetangga. Sebelah rumahnya terkunci karena anak tetangganya membawa orang tuanya ke Bahrain, tempat dia bekerja sebagai perawat. Penghuni rumah yang lainnya pindah ke Dubai dan menyewakan tempat itu kepada pasangan lanjut usia.

Lingkungan sekitar adalah gambaran kehancuran. Di tengah rimbunnya pepohonan tapioka, pisang, dan jati, rumah-rumah megah dengan pekarangan luas tampak kosong, jalan masuknya berserakan dedaunan kering dan mobil-mobil berselimut debu. Kamera CCTV telah menggantikan anjing penjaga.

“Ini adalah kehidupan yang sangat sepi. Saya juga tidak menjaga kesehatan yang baik," kata Jacob.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement