Senin 03 Apr 2023 21:40 WIB

Ukraina Bantah Rusia Telah Merebut Bakhmut

Kremlin menuduh Ukraina sebagai dalang ledakan di sebuah cafe di St Petersburg.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Asap mengepul dari gedung yang terbakar di udara Bakhmut, tempat pertempuran sengit dengan pasukan Rusia di wilayah Donetsk, Ukraina pada 26 Maret 2023.
Foto: AP Photo/Libkos
Asap mengepul dari gedung yang terbakar di udara Bakhmut, tempat pertempuran sengit dengan pasukan Rusia di wilayah Donetsk, Ukraina pada 26 Maret 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Militer Ukraina mengatakan pasukan terkunci dalam pertempuran dengan pasukan Rusia di sekitar gedung-gedung pemerintahan Bakhmut. Kiev juga membantah klaim tentara bayaran Rusia telah menguasai kota sebelum timur Ukraina itu.

Pada Senin (3/4/2023) salah satu juru bicara militer Ukraina mengatakan Rusia tidak mengibarkan bendera kemenangan di atas gedung tapi di atas "semacam toilet."

Baca Juga

Sementara Kremlin menuduh Ukraina sebagai dalang ledakan di sebuah cafe di St Petersburg yang menewaskan blogger pro-Rusia. Moskow mengatakan telah menangkap seorang perempuan yang diduga meledakan bom tersebut.

Pertempuran Bakhmut yang berlangsung berbulan-bulan telah menjadi pertempuran paling mematikan dalam konflik di Ukraina yang kini memasuki tahun kedua. Perang di kota itu menimbulkan banyak korban dari kedua pihak dan menghancurkan banyak gedung.

Garis pertempuran maju-mundur di jalan-jalan kota. Kepala tentara bayaran Wagner yang menjadi ujung tombak operasi militer Kremlin untuk mengepung dan menguasai Bahkmut mengatakan pasukannya telah mengibarkan bendera Rusia di gedung pemerintahan Bahkmut.

Yevgeny Prigozhin mengakui pasukan Ukraina masih menguasai beberapa posisi. "Dari sudut pandang hukum, Bakhmut sudah direbut, musuh terkonsentrasi di bagian barat," katanya dalam video yang diunggah di aplikasi Telegram, Ahad (2/4/2023) kemarin.

Sebelumnya Prigozhin pernah membuat pernyataan yang terlalu dini. Sementara militer Ukraina mengatakan pertempuran di Bahkmut dan di beberapa kota lainnya masih berlangsung.

Juru bicara komando militer bagian timur Ukraina Serhiy Cherevatiy mengatakan klaim Rusia sudah menguasai gedung pemerintah di Bakhmut adalah palsu. Ia mengatakan bentrokan masih terjadi di sekitar gedung dewan kota.

"Bakhmut milik Ukraina dan mereka sama sekali belum merebutnya dan sejujurnya, masih jauh dari melakukan itu," katanya.

"Mereka mengibarkan bendera di semacam toilet, mereka menempelkannya di sisi entah apa, menggantung kain mereka dan mengatakan telah merebut kota, bagus biarkan mereka mengira telah merebut," tambah Cherevatiy.

Sebelumnya militer Ukraina mengatakan Rusia menyerang kota itu tapi pasukannya berhasil mempertahankannya. Dalam pidato malamnya Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berterimakasih pada pasukan yang berperang di Bakhmut, Avdiivka dan Maryinka.

"Terutama di Bahkmut, panas sekali di sana," katanya.

Pengamat militer Ukraina Oleh Zhdanov mengatakan pertempuran melanda pusat kota Bahkmut. Ia menambahkan pasukan Ukraina membalas 25 serangan musuh tapi pasukan Rusia merebut pabrik besi AZOM.

"Musuh menyerang pusat kota dari sebelah utara, timur dan selatan dan mencoba merebut kota di bawah kendali mereka sepenuhnya," kata Zhdanov dalam sebuah video yang diunggah di Youtube.

Laporan di medan pertempuran belum dapat diverifikasi secara mandiri.

Bakhmut yang sebelum perang memiliki 70 ribu populasi merupakan kota pertambangan dan pusat logistik di pinggir Provinsi Donetsk yang dikuasai Rusia. Pasukan Rusia terjebak dalam pertempuran di kota itu setelah mengalami sejumlah kemunduran tahun lalu.

Komandan militer Ukraina mengatakan serangan balik yang didukung tank dan senjata Barat tidak memukul musuh cukup jauh tapi penting untuk mempertahankan Bahkmut. Selain itu juga menimbulkan kerugian pada pihak musuh sementara waktu.

Rusia menyebut invasinya ke Ukraina sebagai "operasi militer khusus" dengan mengklaim kedekatan Kiev dengan Barat menjadi ancaman keamanannya. Kiev dan Barat menyebut serangan Rusia tidak didahului provokasi.

Sudah puluhan ribu warga sipil dan tentara Ukraina tewas dalam perang ini. Rusia menghancurkan kota-kota Ukraina dan memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah mereka. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement