Sabtu 15 Apr 2023 01:35 WIB

PBB Sebut Adanya Pengungsian Baru Etnis Tigray di Ethiopia

Pasukan dari wilayah Amhara di Ethiopia telah mengusir puluhan ribu etnis Tigris

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Pasukan dari wilayah Amhara di Ethiopia telah mengusir puluhan ribu etnis Tigris dari wilayah yang disengketakan di bagian utara negara itu dalam beberapa pekan terakhir.
Foto: AP Photo/Nariman El-Mofty
Pasukan dari wilayah Amhara di Ethiopia telah mengusir puluhan ribu etnis Tigris dari wilayah yang disengketakan di bagian utara negara itu dalam beberapa pekan terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, ADDIS ABABA -- Pasukan dari wilayah Amhara di Ethiopia telah mengusir puluhan ribu etnis Tigris dari wilayah yang disengketakan di bagian utara negara itu dalam beberapa pekan terakhir. Padahal, ada kesepakatan perdamaian pada akhir tahun lalu, menurut para pekerja bantuan dan dokumen badan internal yang dipaparkan ke Associated Press (AP).

Daerah Mai Tsebri di barat laut Tigray dekat dengan perbatasan regional dengan Amhara. Wilayah itu berpindah tangan beberapa kali selama perang, yang meletus pada tahun 2020 dan berakhir dengan gencatan senjata pada bulan November tahun ini. Orang-orang Amhara mengklaim daerah itu sebagai milik mereka.

Sejak awal Maret, sekitar 47.000 orang yang terusir dari Mai Tsebri telah pergi ke Endabaguna, sebuah kota yang berjarak sekitar 55 kilometer (34 mil) ke arah utara, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diperlihatkan ke AP pada hari Kamis (13/4/2023).

Laporan lain, yang disiapkan oleh sebuah lembaga kemanusiaan, mengatakan bahwa penduduk melarikan diri dari Mai Tsebri karena "pelecehan, profil etnis, dan ancaman langsung" dari pasukan Amhara yang juga melakukan \"penggusuran.\"

Laporan tersebut menambahkan bahwa tidak ada pengiriman bantuan ke Endabaguna sejak para pengungsi mulai berdatangan. Akibatnya, kata laporan itu, mereka \"berada di ambang kelaparan.\"

Para pengungsi di Endabaguna berlindung di sebuah pusat penampungan yang awalnya dibangun oleh PBB dan pemerintah Ethiopia untuk para pengungsi dari Eritrea, yang berbatasan dengan Tigray. Namun kini, tempat tersebut rusak parah selama perang.

Seorang pekerja bantuan yang baru-baru ini mengunjungi pusat penampungan tersebut mengatakan bahwa kondisi di sana "sangat buruk" dan jumlah orang yang ada di sana "terus bertambah dari hari ke hari."

"Atap dan saluran pipa rusak, tidak ada toilet dan jamban, pintu dan jendela kamar dijarah (atau) rusak, dan tidak ada pasokan air yang layak," kata pekerja bantuan tersebut, yang tidak mau disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Namun kondisi yang memprihatinkan ini juga tidak segera mungkin untuk mendapatkan komentar dari pihak berwenang Amhara. Seorang pekerja bantuan kedua, yang juga meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada wartawan. Ia mengatakan banyak orang yang baru-baru ini diusir dari Mai Tsebri.

Mereka dipaksa mengungsi untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya dipaksa keluar dari rumah mereka di bagian barat Tigray. Pasukan Amhara mencaplok wilayah barat Tigray pada tahap awal perang. Mereka dituduh melakukan "pembersihan etnis" oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat setelah mereka secara paksa mendeportasi ratusan ribu orang Tigray dari daerah tersebut.

Di bawah gencatan senjata baru-baru ini, pengiriman bantuan ke Tigray dilanjutkan setelah dua tahun pembatasan. Namun, para pekerja bantuan mengatakan bahwa pasukan Amhara terus memblokir distribusi makanan di sekitar Mai Tsebri, dan penduduk melaporkan adanya pembunuhan.

Seorang penduduk Mai Tsebri, Teferi Muley, mengatakan bahwa ia melarikan diri dari daerah tersebut pada bulan November setelah diancam oleh pasukan Amhara, yang menuduhnya membantu pemberontak Tigray. Dia mengatakan bahwa dia kembali pada bulan Maret ke desa terdekat, Haida, di mana dia menyaksikan penembakan beberapa penambang emas oleh pasukan Amhara.

Pekan lalu pemerintah Ethiopia mengatakan bahwa mereka berencana untuk menggabungkan pasukan keamanan dari 11 wilayah federal ke dalam tentara atau polisi nasional. Hal ini memicu gelombang protes di seluruh Amhara, serta pertempuran senjata antara militer federal dan unit-unit regional Amhara yang menolak untuk melucuti senjata.

Para pejabat kemanusiaan meyakini bahwa pergolakan ini kemungkinan akan menyebabkan peningkatan pengungsian dari Mai Tsebri, yang telah mencapai rata-rata 150 rumah tangga setiap harinya, menurut penilaian dari sebuah lembaga bantuan lainnya.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement