Jumat 28 Apr 2023 08:18 WIB

Palestina Kecam Pernyataan Presiden Komisi Eropa yang Dinilai Diskriminatif

Selama ini Eropa memiliki hubungan baik dengan Palestina.

Rep: Rizky Jaramaya, Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dikecam warga Palestina atas pernyataannya yang dinilai diskriminatif dan rasis.
Foto: AP Photo/Jean-Francois Badias
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dikecam warga Palestina atas pernyataannya yang dinilai diskriminatif dan rasis.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Warga Palestina mengecam pernyataan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen yang dinilai diskriminatif dan rasis. Dalam sebuah pernyataan video ucapan selamat pada Hari Kemerdekaan Israel, von der Leyen memuji Israel karena telah 'membuat gurun mekar'.

Ungkapan 'membuat gurun mekar' biasanya digunakan oleh Israel dan para pendukungnya untuk menggambarkan keberhasilan negara tersebut dalam mengembangkan tanahnya sejak berdirinya negara modern pada 1948. Orang Palestina berpendapat, ungkapan itu berarti menghapus sejarah mereka dan menunjukkan bahwa tanah itu sebelumnya tidak berpenghuni atau tidak terawat.

Baca Juga

Pernyataan von der Leyen telah memicu pertikaian diplomatik yang tidak biasa antara Otoritas Palestina (PA) dan Uni Eropa (UE), yang merupakan donor utamanya. Seorang juru bicara Komisi Eropa mengatakan, Uni Eropa sangat terkejut dengan kecaman Palestina terkait pernyataan von der Leyen.

"Uni Eropa sangat terkejut dengan pernyataan yang tidak pantas dari Kementerian Luar Negeri Palestina yang menuduh presiden Komisi Eropa melakukan rasisme. Kami meminta klarifikasi dari otoritas Palestina mengenai reaksi yang tidak dapat diterima terhadap videonya," ujar juru bicara itu, dilaporkan BBC, Kamis (27/4/2023).

Tanggapan Kementerian Luar Negeri Palestina adalah teguran keras yang jarang ditujukan kepada seorang tokoh terkemuka di Brussel. Selama ini Eropa memiliki hubungan baik dengan Palestina.

Otoritas Palestina menilai pernyataan von der Leyen bahwa Israel telah mengolah tanah tandus merupakan 'kiasan rasis anti-Palestina'. Otoritas Palestina menyerukan kepada von der Leyen untuk meminta maaf.

Otoritas Palestina menggambarkan pesan yang disampaikan von der Leyen sebagai wacana propaganda dan bagian dari pencabutan kepemilikan warga Palestina. Otoritas Palestina mengklaim pernyataan itu merendahkan dan menghapus orang-orang Palestina, serta memalsukan sejarah dan peradaban.

"Pernyataan Eropa menutupi pendudukan Israel atas tanah yang diklaim Palestina sebagai negara harapan mereka di masa depan dan menyangkal peringatan peristiwa Nakba yang berlangsung pada 1948," ujar pernyataan Otoritas Palestina.

Sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam perang yang mengikuti pembentukan negara Israel. Orang Palestina menandai Hari Nakba pada tanggal 15 Mei menurut kalender Gregorian. Sementara Hari Kemerdekaan Israel mengikuti kalender Ibrani.

Beberapa orang Palestina di media sosial juga mengkritik atau mengejek von der Leyen, termasuk komentarnya tentang nilai-nilai yang sama dengan Israel. Video von der Leyen yang diunggah di akun Twitter @EUinIsrael telah ditonton lebih dari 2,9 juta kali.

"Tujuh puluh lima tahun yang lalu, sebuah mimpi diwujudkan dengan Hari Kemerdekaan Israel. Setelah tragedi terbesar dalam sejarah umat manusia, orang-orang Yahudi akhirnya bisa membangun rumah di tanah perjanjian," ujar von der Leyen.

"Hari ini, kita merayakan 75 tahun demokrasi yang hidup di jantung Timur Tengah, 75 tahun dinamisme, kecerdikan, dan inovasi inovatif. Anda benar-benar telah membuat gurun bermekaran, seperti yang saya lihat selama kunjungan saya ke Negev tahun lalu," tambah von der Leyen.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement