Ahad 04 Jun 2023 19:15 WIB

Jepang dan Korsel Percepat Pembicaraan Penguatan Militer

Perselisihan masa lalu antara Jepang dan Korsel kerap jadi halangan kerja sama.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Jepang dan Korea Selatan sepakat pada Ahad (4/6/2023), untuk segera menyelesaikan perselisihan di masa lalu
Foto: REUTERS
Jepang dan Korea Selatan sepakat pada Ahad (4/6/2023), untuk segera menyelesaikan perselisihan di masa lalu

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Jepang dan Korea Selatan sepakat pada Ahad (4/6/2023) untuk segera menyelesaikan perselisihan masa lalu yang kerap jadi halangan kerja sama keamanan dua negara. Demikian diuungkapkan menteri pertahanan Jepang pada konferensi keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura.

Menteri Pertahanan Jepang Yasukazu Hamada mengadakan pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Lee Jong-sup sebagai bagian dari konferensi keamanan tertinggi di Asia.

Baca Juga

"Kami membahas masalah yang tertunda" dan setuju "untuk mempercepat pembicaraan, termasuk langkah-langkah untuk mencegah terulangnya" insiden radar tahun 2018, demikian ungkap Hamada kepada wartawan setelah pertemuan tersebut. "Kami akan terus menjalin komunikasi yang erat dengan Korea Selatan," katanya menambahkan.

Dalam insiden tahun 2018, Seoul membantah pernyataan Tokyo bahwa kapal perusak Korea Selatan telah mengunci radar penargetan pada pesawat pengintai Jepang. Hal itu memicu perselisihan yang telah menghambat hubungan kedua negara bertetangga di Asia Timur ini.

Ketika ditanya tentang masalah ini, Lee mengatakan kepada wartawan, dia dan Hamada sepakat untuk menyelesaikannya. Upaya penyelesaian dimulai dengan pembicaraan tingkat kerja, dengan fokus pada penyusunan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya insiden tersebut.

Lee dan Hamada mengutuk peluncuran satelit yang gagal oleh Korea Utara pada Rabu lalu sebagai pelanggaran berat terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Badan ini telah melarang semua peluncuran yang menggunakan teknologi rudal balistik, demikian ungkap Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Kedua menteri sepakat tentang perlunya kerja sama keamanan yang lebih besar secara bilateral dan dengan sekutu bersama mereka, AS. "Kerja sama ini penting untuk untuk mengekang ancaman nuklir dan rudal Korut dan mempromosikan Indo Pasifik yang lebih stabil," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Hamada mengatakan bahwa dia dan Lee sepakat tentang pentingnya mempromosikan kerja sama pertahanan di antara Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, terutama di kawasan Pasifik.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement