Kamis 08 Jun 2023 01:20 WIB

Orang Tua Murid di Nigeria Bayar Uang Sekolah dengan Sampah

Skema pembayaran ini bertujuan untuk mengurangi jumlah anak putus sekolah.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
 Siswa sekolah di Nigeria (ilustrasi).
Foto: EPA-EFE/STRINGER
Siswa sekolah di Nigeria (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, LAGOS -- Siswa kelas empat Nigeria Fawas Adeosun sering dipulangkan dari sekolah melalui jalan berpasir di Lagos karena ibunya Fatimoh belum membayar biayanya. Dia akhirnya mendaftar di sekolah lain yang menawarkan sebuah solusi.

Fatimah dan Fawas berjalan ke sekolah baru bersama dengan karung sampah yang menggembung di pundak mereka. Sampah tersebut ditimbang di lingkungan sekolah dan nilai jualnya ditambahkan ke rekening Fawas.

Baca Juga

“Kadang-kadang jika dia ingin membeli pakaian olahraga, sekolah akan memberi tahu saya jumlah yang harus saya bawa,” kata  penata rambut berusia 48 tahun yang mengasuh enam anak seorang dri.

Sekolah My Dream Stead di lingkungan Ajegunle yang miskin tempat keluarga Adeosun tinggal adalah salah satu dari 40 sekolah berbiaya rendah di ibu kota komersial Nigeria. Mereka menerima limbah daur ulang sebagai pembayaran sekolah.

"Ketika saya mengetahui bahwa mereka dapat mengumpulkan plastik dari saya untuk menyekolahkan anak saya, itu membuat beban saya lebih ringan," kata Fatimah sambil menjelajahi tempat sampah di jalan untuk didaur ulang dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Selama empat tahun terakhir, organisasi lingkungan lokal bernama African Cleanup Initiative telah mengumpulkan botol, kaleng, karton minuman, dan wadah plastik yang dibawa ke sekolah oleh orang tua dan menjualnya ke pendaur ulang. Hasil penjualan itu digunakan untuk membayar gaji guru, seragam anak, buku dan pulpen, di antara biaya lainnya.

Pendiri African Cleanup Initiative Alexander Akhigbe menyatakan, skema tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah anak putus sekolah serta jumlah sampah di jalanan Lagos. Biaya kuliah di My Dream Stead mencapai 130 dolar AS per tahun dan sekolah tersebut berkembang menjadi dua blok untuk menampung 120 muridnya. Padahal hanya terdapat tujuh anak yang terdaftar saat dibuka pada 2019.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement