Selasa 25 Jul 2023 05:35 WIB

Dua Perempuan India Diarak dan Diperkosa, AS: Brutal dan Mengerikan

AS menyebut insiden itu brutal dan mengerikan serta menyampaikan simpati pada korban

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Ribuan suku, kebanyakan perempuan, telah melakukan protes besar-besaran di Manipur India pada Sabtu (22/7/2023).
Foto: AP
Ribuan suku, kebanyakan perempuan, telah melakukan protes besar-besaran di Manipur India pada Sabtu (22/7/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) pada Ahad (23/7/2023), mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan laporan video viral yang menunjukkan dua orang perempuan diarak telanjang di negara bagian Manipur di timur laut India. Pihak AS menyayangkan kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut terjadi dua bulan lalu, di mana sekelompok orang diduga memperkosa dan mengarak kedua perempuan telanjang di depan umum. Kondisi itu menjadi sorotan dunia karena videonya viral di media sosial dalam seminggu terakhir.

Baca Juga

Polisi India mengakui telah melakukan beberapa penangkapan terkait insiden tersebut. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut insiden tersebut "brutal" dan "mengerikan" dan mengatakan bahwa Amerika Serikat menyampaikan simpati kepada para korban.

Penyerangan tersebut dilaporkan oleh para korban yang berusia 21 dan 19 tahun pada bulan Mei lalu. Wilayah Manipur saat itu terjadi bentrokan etnis yang intens antara suku Kuki dan etnis mayoritas Meitei mengenai potensi perubahan manfaat ekonomi yang diberikan kepada suku Kuki.

Masalah ini berhasil dipadamkan setelah New Delhi mengirimkan ribuan pasukan paramiliter dan tentara ke negara bagian yang berpenduduk 3,2 juta jiwa ini. Tetapi kekerasan sporadis dan pembunuhan kembali terjadi segera setelah itu dan negara bagian ini tetap tegang sejak saat itu.

Setidaknya 125 orang telah terbunuh dan lebih dari 40.000 orang telah meninggalkan rumah mereka sejak kekerasan meletus di Manipur. AS mendorong resolusi damai dan inklusif terhadap kekerasan di Manipur.

AS juga mendesak pihak berwenang India untuk menanggapi kebutuhan kemanusiaan korban. Termasuk sambil melindungi semua kelompok, rumah, dan tempat ibadah, ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS. Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi pada hari Kamis mengutuk serangan tersebut sebagai "memalukan" dan menjanjikan tindakan tegas.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement