Rabu 02 Aug 2023 11:48 WIB

Tokoh-Tokoh Non-Islam Ikut Kecam Pembakaran Alquran

Beberapa tokoh non-Islam dunia juga ikut mengecam pembakaran Alquran

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Esthi Maharani
Beberapa tokoh non-Islam dunia juga ikut menyampaikan pendapatnya dan mengecam tindakan pembakaran Alquran tersebut.
Foto: AP
Beberapa tokoh non-Islam dunia juga ikut menyampaikan pendapatnya dan mengecam tindakan pembakaran Alquran tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemberitaan seputar aksi pembakaran Alquran di Eropa dalam beberapa minggu terakhir terus bermunculan. Aksi yang dikecam oleh komunitas Muslim dunia ini tampaknya tak menyusutkan niat pelaku untuk menghentikan rencananya.

Sejumlah upaya telah dilakukan negara-negara Islam untuk membuka mata dunia perihal betapa seriusnya masalah ini bagi umat Muslim. Sesi mendesak tentang Tindakan Kebencian Agama pun digelar di Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Baca Juga

Di luar itu, beberapa tokoh non-Islam dunia juga ikut menyampaikan pendapatnya dan mengecam tindakan pembakaran Alquran tersebut. Berdasarkan sumber berita yang ada, berikut beberapa nama-nama tokoh yang dimaksud:

1. Paus Fransiskus

Paus Francis atau Fransiskus mengecam pembakaran Alquran yang baru-baru ini terjadi di Swedia dan Denmark. Ia menyebut aksi tersebut sebagai tindakan yang biadab, serta mengatakan tindakan penghujatan seperti itu mencegah dialog antar negara.

“Berita pembakaran Alquran benar-benar tindakan biadab. Kasus-kasus ini merugikan dan menghalangi dialog yang matang di antara orang-orang,” ujar Paus.

Tidak hanya itu, Paus Francis juga mengutuk tindakan asusila tersebut, dengan mengungkapkan kemarahan dan rasa jijik atas tindakan itu.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah surat, sebagai tanggapan atas ulama Syiah Argentina Abdul Karim Paz, perwakilan yayasan Islam Argentina. Pekan lalu, Abdul Karim Paz mengirim surat kepada kepala Gereja Katolik, yang berisi kutukan tindakan berulang kali membakar salinan kitab suci umat Islam, sekaligus mengatakan itu bertentangan dengan kesatuan agama-agama Ibrahim.

Tidak hanya kali ini, kecaman yang disampaikan Paus Francis atas aksi pembakaran Alquran juga sempat terdengar bulan kemarin. Hal ini terjadi setelah terjadi pembakaran Alquran di Stockholm, Swedia.

Ia menyebut kitab apapun yang dianggap suci harus dihormati, sebagai bentuk penghargaan terhadap orang-orang yang mempercayai isi kitab tersebut.

"Kebebasan berbicara tidak sepatutnya digunakan untuk menghina pihak lain dan memperkenankan apa yang tidak pantas," kata dia.

2. Vladimir Putin

Tokoh lain yang secara tidak terduga mengecam aksi pembakaran kitab suci dan membela Alquran adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia bahkan menegaskan akan menghukum siapa pun yang berani membakar dan menodai kitab suci Alquran di Rusia.

Hal ini ia sampaikan selama perjalanannya ke Derbent, Republik Otonomi Dagestan, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim di Rusia. Ia menyebut tindakan yang dengan sengaja menyinggung dan mengejek agama seseorang termasuk dalam Pasal 282 KUHP Rusia, yang mengatur tentang penghasutan untuk kebencian.

Dalam kunjungannya tersebut, Putin bahkan terlihat menerima hadiah berupa salinan Alquran dan memeluknya. Ia menegaskan Alquran, kitab suci umat Muslim, akan selalu dihormati di negaranya.

"Di negara kami, ini adalah kejahatan baik menurut Konstitusi maupun hukum pidana. Alquran suci bagi umat Islam dan harus suci bagi orang lain. Kami akan selalu mematuhi aturan ini,” lanjut dia.

Tidak hanya Putin, Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia Konstantin Kosachev juga menyebut Dewan Hubungan Antaretnis mengutuk tindakan pembakaran Alquran. Pihaknya menyerukan parlemen dunia dan organisasi antar-parlemen agar mengambil langkah-langkah untuk melindungi keyakinan komunitas agama.

Dalam dokumen resmi, ia juga menyebut tindakan membakar kitab suci dan tempat suci agama memicu kemarahan umat beriman. Tuhan tidak bisa diejek, tetapi upaya untuk menghina kepercayaan komunitas agama melanggar hak mereka atas kebebasan berpikir, hati nurani dan beragama, sekaligus memicu perselisihan antaragama.

"Jelas, posisi anti-Muslim otoritas Swedia dimiliki juga oleh UE dan sejalan dengan apa yang disebut 'nilai-nilai Eropa'. Dengan demikian, Peradaban Barat seolah-olah menimbulkan tantangan lain bagi seluruh dunia Muslim, yang bereaksi dengan kemarahan terhadap penistaan agama terhadap kitab sucinya," kata dokumen itu.

3. Isaac Hergoz

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement