Kamis 24 Aug 2023 13:04 WIB

Putin Gunakan KTT BRICS untuk Bela Perang di Ukraina

Negara anggota BRICS akan menggelar KTT tiga hari di Johannesburg pada pekan ini.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan para pemimpin kelompok negara BRICS pada awal pertemuan puncak tiga hari di Johannesburg, Afrika Selatan melalui konferensi video dari Moskow.
Foto: Mikhail Klimentyev, Sputnik, Kremlin Pool Ph
Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan para pemimpin kelompok negara BRICS pada awal pertemuan puncak tiga hari di Johannesburg, Afrika Selatan melalui konferensi video dari Moskow.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan pidatonya di pertemuan puncak para pemimpin BRICS untuk membela perang Rusia di Ukraina. Dia memuji kelompok tersebut sebagai penyeimbang dominasi global Amerika Serikat (AS) pada Rabu (23/8/2023).

Berbicara melalui tautan video, Putin mengulangi narasi Istana Kremlin bahwa operasi militer khusus di Ukraina merupakan respons paksa Rusia terhadap tindakan permusuhan Ukraina dan AS. “Tindakan kami di Ukraina hanya ditentukan oleh satu hal untuk mengakhiri perang yang dilancarkan oleh Barat dan negara-negara satelitnya terhadap orang-orang yang tinggal di Donbas,” kata Putin mengacu pada bagian timur Ukraina yang menjadi proksi Rusia melawan tentara Ukraina sejak 2014.

Baca Juga

“Saya ingin mencatat bahwa keinginan untuk mempertahankan hegemoni mereka di dunia, keinginan beberapa negara untuk mempertahankan hegemoni itulah yang menyebabkan krisis parah di Ukraina," ujar presiden Rusia tersebut.

Putin berbicara di forum negara-negara yang menahan diri untuk tidak mengutuk tindakan Rusia di Ukraina. Aliansi yang juga mencakup Brasil, India, Cina, dan Afrika Selatan semakin berperan penting bagi Rusia karena negara tersebut berupaya untuk mengurangi sanksi Barat dengan meningkatkan perdagangan dengan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Rusia telah berulang kali mengatakan, bahwa pihaknya terbuka terhadap perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 18 bulan. Namun, pembicaraan itu bisa terjadi jika mempertimbangkan realitas baru yang diciptakan oleh pasukannya yang menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina. Ukraina menuntut pemulihan seluruh wilayahnya dan penarikan pasukan Rusia.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Juni mempresentasikan rencana perdamaian Afrika secara terpisah kepada Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Dia mengatakan sebagai tanggapan atas pidato presiden Rusia, bahwa anggota BRICS akan terus mendukung upaya untuk mengakhiri konflik.

Putin tidak dapat menghadiri KTT secara langsung karena surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada Maret. Badan tersebut menuduhnya melakukan kejahatan perang di Ukraina.

Rusia menolak tuduhan itu sebagai keterlaluan dan mengatakan langkah itu tidak memiliki arti hukum karena bukan anggota ICC. Namun, Afrika Selatan adalah anggota ICC yang berarti wajib menangkapnya jika Putin bepergian ke sana. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement