Selasa 29 Aug 2023 14:13 WIB

Tandingi Kekuatan Senjata Cina, AS Andalkan Teknologi Militer

Beijing punya lebih banyak kapal, rudal, dan lebih banyak personel militer.

 Tentara Pembebasan Rakyat Cina saat merayakan hari jadinya pada 30 Juli 2017.
Foto: Reuters
Tentara Pembebasan Rakyat Cina saat merayakan hari jadinya pada 30 Juli 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Persaingan kekuatan militer AS dan Cina belum juga berhenti. Departemen Pertahanan AS atau Pentagon berencana terus menyaingi kekuatan Cina. Dalam dua tahun mendatang, mereka akan melengkapi diri dengan drone dan peralatan militer berteknologi tinggi.

Menurut Pentagon, kini militer AS lebih mengandalkan sistem otonom untuk menandangi militer Cina yang memiliki lebih banyak personel dan senjata. Hal ini ditegaskan Wakil Menhan AS Kathleen Hicks pada konferensi teknologi militer di Washington DC, Senin (28/8/2023).

Baca Juga

Hicks menyatakan, tuntutan untuk berinovasi sangat krusial saat melakukan persaingan yang strategis dengan Cina. Ia menggambarkan selama Perang Dingin, Cina merupakan pesaing yang berkembang lamban. 

"Namun, saat pasukan AS bertempur di Irak dan Afghanistan selama 20 tahun, Cina fokus membangun militer modern dan secara hati-hati memanfaatkan keuntungan yang telah kita nikmati selama beberapa dekade,’’ katanya seperti dilansir Aljazirah, Selasa (29/8/2023).

Hicks menyampaikan pandangan Washington mengenai ancaman Cina dan kemampuan mereka melampaui militer AS dalam hal jumlah. Dalam hal ini, ia menyatakan AS beruntung memiliki kemampuan mengimajinasikan dan menciptakan karakter alat perang masa depan. 

Keuntungan utama militer Beijing adalah, "Punya lebih banyak kapal, lebih banyak rudal, dan lebih banyak personel militernya,’’ kata Hicks. Ia menambahkan, AS akan mengatasinya dengan perangkat yang lebih teliti dirancang, lebih keras dalam mengalahkan mereka. 

‘’Tujuan AS mengembangkan sistem otonom yang skalanya mencapai kelipatan ribuan, berbagai domain dalam kurun 18 hingga 24 bulan mendatang,’’ ujar Hicks. Dengan sistem otonom, biayanya lebih murah dan hanya sedikit personel di garis depan medan perang. 

AS harus bisa memastikan, pemimpin Cina terjaga setiap hari, memikirkan risiko adanya agresi dan menyimpulkan ternyata agresi tak terjadi hari ini. Bukan hanya hari ini, kata dia, melainkan setiap hari antara sekarang dan 2027, sekarang dan 2049, dan masa mendatang. 

Dalam asesmen periodik mengenai kebutuhan dan prioritas pertahanan AS, pada Oktober lalu Pentagon menyatakan Cina menghadirkan tantangan dan perlu memperkuat diri untuk mengatasi kekuatan Cina tersebut. 

The National Defense Strategy yang disusun Pentagon menyatakan, Cina akan tetapi menjadi pesaing terkait dalam beberapa dekade mendatang. Rilis strategi ini hanya beberapa pekan setelah Gedung Putih menerbitkan National Security Strategy.

Strategi itu juga menggambarkan Cina sebagai pesaing utama dan mampu membentuk kembali tata internasional. Mereka juga bakal menjadi kekuatan ekonomi, diplomatik, militer, serta teknologi pada masa mendatang. 

Di sisi lain, Washington menaruh perhatian pada kemampuan dalam menguasai wilayah Indo Pasifik, klaim atas Laut Cina Selatan, dan menyatukan Taiwan dan daratan Cina dengan kekuatan jika memang diperlukan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement