Ahad 03 Sep 2023 15:44 WIB

Rusia Mulai Kirim Biji-bijian Gratis ke Afrika

Moskow telah memulai pengiriman pasokan biji-bijian Rusia ke enam negara Afrika.

Rusia telah memulai pengiriman pasokan biji-bijian Rusia ke enam negara Afrika.
Foto: AP Photo/Khalil Hamra
Rusia telah memulai pengiriman pasokan biji-bijian Rusia ke enam negara Afrika.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pada Jumat (1/9/2023) bahwa Moskow telah memulai pengiriman pasokan biji-bijian Rusia ke enam negara Afrika.

Burkina Faso, Republik Afrika Tengah, Eritrea, Mali, Somalia, dan Zimbabwe masing-masing akan mendapatkan 50.000 ton biji-bijian secara gratis dalam beberapa bulan mendatang, katanya dalam sebuah acara di Moskow. Rusia juga akan menanggung biaya pengiriman, lanjutnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah menjanjikan akan memasok biji-bijian secara gratis ke Afrika setelah Moskow memutuskan menarik diri dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam pada Juli lalu.

Moskow menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut karena ada beberapa tuntutan mereka yang hingga kini belum terpenuhi, yaitu menghapuskan hambatan ekspor pupuk Rusia dan mengembalikan bank pertanian Rusia ke dalam sistem pembayaran internasional SWIFT.

Dalam acara tersebut, Lavrov juga menyinggung tentang pertemuan konsultasi perdamaian Ukraina di Jeddah, Arab Saudi pada 5-6 Agustus.

Arab Saudi telah memberi tahu Moskow bahwa pertemuan itu diselenggarakan untuk menyampaikan sebuah gagasan kepada negara-negara Barat dan Ukraina bahwa penyelesaian damai antara Moskow dan Kiev tidak dapat mencapai kemajuan tanpa partisipasi Rusia, katanya.

Mengenai keinginan Rusia untuk melakukan perdagangan dengan mata uang selain dolar AS, Lavrov mengatakan bahwa Washington telah merusak posisi mata uang tersebut dengan menjadikannya sebagai senjata.

Menurut Lavrov, saat ini Rusia belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk beralih ke mata uang lain, tetapi prosedur standar akan berkembang secara bertahap karena banyak negara terpaksa mencari alternatif selain dolar.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement