Rabu 20 Sep 2023 18:50 WIB

Ukraina Keluhkan Senjata Usang, Tolak 10 Tank Leopard Jerman

Tentara Ukraina memimpikan peluncur roket HIMARS buatan AS.

Peluncur roket Grad tentara Ukraina menembakkan roket ke posisi Rusia, di Donetsk, Ukraina, Rabu (11/1/2023).
Foto: AP Photo/Libkos
Peluncur roket Grad tentara Ukraina menembakkan roket ke posisi Rusia, di Donetsk, Ukraina, Rabu (11/1/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BAKHMUT – Tentara Ukraina menyatakan masih membutuhkan lebih banyak senjata dari Barat untuk mempercepat serangan balik ke pasukan Rusia. Baru-baru ini, mereka berhasil merebut kembali dua desa di selatan Bakhmut. 

Capaian ini akan membantu pasukan Ukraina untuk terus maju menuju Bakhmut, kota di bagian timur yang dikuasai Rusia sejak Mei silam. Namun, tentara Ukraian yang bertahan di sebuah bungker dekat Bakhmut, pekan ini mengeluhkan senjata yang mereka miliki. 

Baca Juga

Kini mereka mengandalkan peluncur roket era Soviet dan memimpikan yang lebih canggih, seperti HIMARS, buatan AS. ‘’Segalanya lebih cerah, lebih menarik jika kami punya HIMARS,’’ kata tentara yang hanya menyebut namanya Denys seperti dilansir Reuters, Rabu (20/9/2023).

Kalaupun bukan HIMARS, jelas dia, paling tidak Vampires, peluncur roket produk Republik Ceska. Barat telah menyuplai senjata bernilai miliaran dolar AS sejak 19 bulan lalu. Sejumlah pasukan Ukraina juga sebenarnya sudah menggunakan Vampires maupun HIMARS. 

Namun, Denys seperti sering disampaikan Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan, Ukraian butuh lebih banyak senjata untuk mengalahkan pasukan Rusia. ‘’Kami perlu senjata, lebih banyak. Senjata yang bagus, senjata yang lebih akurat.’’

Di sisi lain, pasokan peralatan perang dari  negara-negara sekutu juga ada yang dalam kondisi buruk. Misalnya, Ukraina menolak menerima 10 tank Leopard 1A5 dari Jerman karena perlu diperbaiki sedangkan di Kiev tak ada teknisi yang bisa memperbaikinya. 

Tak ada pula suku cadang tank tersebut untuk menggantikan suku cadang yang rusak. Kiev menginformasikan kepada Kementerian Pertahanan Jerman, tank Leopard 1 yang tiba di Polandia perlu perbaikan dan beberapa di antaranya harus dibongkar besar-besaran. 

Penolakan tank ini diberitakan laman berita Ukraina, Ukrayinska Pravda yang mengutip, Spiegel. Jerman kemudian mengirimkan sejumlah ahli ke Polandia untuk memeriksa kondisi tank tersebut. 

‘’Diketahui, tank tersebut sudah aus setelah digunakan dalam latihan tentara Ukraina di Jerman dan membutuhkan perbaikan,’’ demikian dilaporkan Ukrayinska Pravda. Beberapa tank Leopard yang telah tiba di Ukraina pada Juli lalu, tak bisa beroperasi karena alasan yang sama. 

Laporan Spiegel menggambarkan perhatian atas kondisi tanka Leopard 1A5, di mana Jerman berencana mengirimkan 100 unit ke Ukraina. Ini menjadi tantangan bagi Jerman mengenai tata kelola logistik dalam  upaya bantuan militer.

Tank-tank yang saat ini tertahan di Polandia merupakan bagian kedua dari suplai dalam jumlah besar. Tank-tank itu dipensiunkan lebih dari satu dekade lalu. Bagaimanapun karena masih ada yang belum dikirimkan, maka Jerman sebaiknya melakukan reparasi tank-tank itu. 

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement