Jumat 06 Oct 2023 08:41 WIB

Berapa Banyak Limbah PLTN Fukushima Tahap Kedua?

Jepang melepaskan 7.800 ton air yang telah diolah ke Samudra Pasifik selama 17 hari

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima mulai melepaskan air limbah radioaktif tahapan kedua pada Kamis (5/10/2023).
Foto: EPA-EFE/JIJI PRESS
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima mulai melepaskan air limbah radioaktif tahapan kedua pada Kamis (5/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima mulai melepaskan air limbah radioaktif tahapan kedua pada Kamis (5/10/2023). Operator PLTN Tokyo Electric Power Company Holdings mengatakan pegawainya mengaktifkan pompa untuk mengencerkan air yang telah diolah dengan air laut dalam jumlah besar. Kemudian dengan perlahan-lahan mengirimkan campuran tersebut ke laut melalui terowongan bawah tanah.

Pembuangan air limbah, yang diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa dekade, ditolak keras kelompok-kelompok nelayan dan negara-negara tetangga termasuk Korea Selatan. Cina bahkan melarang semua impor makanan laut Jepang.

Baca Juga

Pembuangan air limbah pertama dimulai pada tanggal 24 Agustus dan berakhir pada tanggal 11 September. Selama pembuangan itu, TEPCO mengatakan telah membuang 7.800 ton air yang telah diolah dari 10 tangki. Pada pelepasan kedua, TEPCO berencana untuk melepaskan 7.800 ton air yang telah diolah lagi ke Samudra Pasifik selama 17 hari.

Sekitar 1,34 juta ton air limbah radioaktif disimpan di sekitar 1.000 tangki di PLTN. Air limbah tersebut terakumulasi sejak PLTN tersebut lumpuh akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.

TEPCO dan pemerintah Jepang mengatakan pembuangan air ke laut tidak dapat dihindari karena tangki-tangki yang menampung air tersebut akan mencapai kapasitasnya pada awal tahun depan dan PLTN itu perlu dinonaktifkan. Prosesnya diperkirakan akan memakan waktu puluhan tahun.

Mereka mengatakan air tersebut diolah untuk mengurangi bahan radioaktif ke tingkat yang aman. Kemudian diencerkan dengan air laut hingga ratusan kali lipat sehingga jauh lebih aman daripada standar internasional.

Namun, beberapa ilmuwan mengatakan pelepasan bahan radioaktif tingkat rendah yang terus menerus belum pernah terjadi sebelumnya dan perlu dipantau secara ketat.

Pemerintah Jepang menyiapkan dana bantuan untuk membantu industri perikanan Jepang menemukan pasar baru dan mengurangi dampak dari larangan makanan laut Cina. Langkah-langkah yang diambil juga mencakup pembelian, pembekuan, dan penyimpanan sementara makanan laut serta promosi penjualan makanan laut di dalam negeri.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement