Ahad 15 Oct 2023 12:44 WIB

Gempa Dahsyat Kembali Guncang Afghanistan Bagian Barat

Pada 7 Oktober lalu gempa dahsyat juga melanda wilayah yang sama.

Warga mencari sisa-sisa barang yang dapat diselamatkan setelah gempa bumi di distrik Zenda Jan di provinsi Herat, Afghanistan barat, Ahad, (8/10/2023).
Foto: AP Photo/Omid Haqjoo
Warga mencari sisa-sisa barang yang dapat diselamatkan setelah gempa bumi di distrik Zenda Jan di provinsi Herat, Afghanistan barat, Ahad, (8/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter melanda wilayah Afghanistan bagian barat hari ini, Ahad (15/10/2023). Gempa tersebut terjadi hanya seminggu setelah gempa kuat dan gempa susulan menewaskan banyak orang dan meratakan seluruh desa di wilayah yang sama.

Survei Geologi AS mengatakan pusat gempa terbaru berada sekitar 34 kilometer (21 mil) di luar Herat, ibu kota provinsi, dan delapan kilometer (lima mil) di bawah permukaan. Belum ada laporan resmi mengenai kemungkinan korban jiwa atau kerusakan.

Baca Juga

Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 7 Oktober meratakan seluruh desa di Herat. Gempa tersebut menjadi salah satu gempa paling merusak dalam sejarah Afghanistan.

"Lebih dari 90 persen korban tewas dalam gempa yang terjadi pekan lalu adalah perempuan dan anak-anak," kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporannya pada Kamis (12/10/2023).

Para pejabat Taliban mengatakan gempa sebelumnya menewaskan lebih dari 2.000 orang di seluruh provinsi tersebut. Pusat gempa berada di distrik Zenda Jan, di mana 1.294 orang meninggal, 1.688 orang terluka dan setiap rumah hancur, menurut angka PBB.

Gempa awal, yang diikuti beberapa kali gempa susulan, dan gempa kedua berkekuatan 6,3 skala Richter pada hari Rabu meratakan desa-desa, menghancurkan ratusan rumah yang terbuat dari batu bata lumpur yang tidak mampu menahan kekuatan tersebut. Sekolah, klinik kesehatan dan fasilitas desa lainnya juga roboh.

Selain puing-puing dan pemakaman setelah kehancuran tersebut, hanya sedikit yang tersisa dari desa-desa di perbukitan berdebu di wilayah tersebut. Para penyintas sedang berjuang untuk menerima kehilangan banyak anggota keluarga. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement