Kamis 19 Oct 2023 15:59 WIB

Rusia Cemas Pertempuran di Gaza Berkembang Jadi Konflik Regional

Rusia juga menyoroti serangan udara ke rumah sakit di Gaza.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Foto: EPA-EFE/EVGENIA NOVOZHENINA
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Pemerintah Rusia mengkhawatirkan pertempuran Israel dengan Hamas dapat melebar dan memicu konflik regional. Moskow secara khusus menyoroti bagaimana Iran terseret dalam masalah tersebut.

“Sejauh menyangkut Gaza, risiko krisis ini meningkat menjadi konflik regional cukup serius,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kepada awak media, Rabu (18/10/2023), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

"Kami mengamati upaya-upaya yang menyalahkan Iran dan menganggapnya cukup provokatif. Saya yakin, kepemimpinan Iran mengambil posisi yang bertanggung jawab dan seimbang serta hanya menyerukan untuk mencegah konflik ini menyebar ke seluruh kawasan dan negara-negara tetangga," ujar Lavrov.

Dia menekankan, Rusia akan mencoba mengambil peran agar mencegah pertempuran di Jalur Gaza berubah menjadi konflik kawasan. “Kami akan mengupayakan hal ini dalam kontak kami dengan Palestina, dengan rekan-rekan Arab lainnya, dan dengan Israel,” katanya.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev turut menyuarakan hal serupa dengan Lavrov. Dia mengaku mengkhawatirkan eskalasi konflik antara Israel dan Palestina. “Konflik ini mempunyai peluang untuk berkembang menjadi perang regional skala penuh. Atau bahkan menjadi perang global jika situasinya berkembang buruk,” ujarnya.

Medvedev kemudian menyoroti serangan udara yang menghantam Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Jalur Gaza. “Serangan rudal terhadap Rumah Sakit Baptis di Jalur Gaza yang menyebabkan ratusan orang tewas adalah sebuah tragedi yang mengerikan. Banyak orang terluka parah dan mungkin tetap cacat seumur hidup mereka,” katanya.

Dia mengingatkan, serangan ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli tetap terjadi walaupun tempat tersebut, termasuk tenaga medis, dilindungi hukum humaniter internasional. “Ini merupakan tindakan biadab yang harus dikecam keras. Namun, tampaknya ini bukan yang terakhir dari serangkaian perkembangan mengerikan di kawasan ini,” ujar Medvedev.

Pada Selasa (17/10/2023) malam lalu, sebuah serangan udara menghantam Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Jalur Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, serangan itu membunuh setidaknya 471 orang dan melukai 342 lainnya. Palestina mengutuk keras serangan tersebut dan telah mengumumkan tiga hari berkabung nasional.

Militer Israel telah membantah bertanggung jawab atas serangan udara yang menghantam Rumah Sakit Baptis Al-Ahli. Israel justru menuduh kelompok perlawanan Palestina di Gaza, yakni Jihad Islam, sebagai aktor di balik serangan ke rumah sakit tersebut.

Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Daniel Hagari mengungkapkan, analisis sistem operasional IDF menunjukkan bahwa rentetan roket ditembakkan dari Gaza ketika Rumah Sakit Baptis Al-Ahli terhantam serangan udara pada Selasa malam lalu. Rentetan roket tersebut melintas di dekat Rumah Sakit Baptis Al-Ahli.

“Intelijen dari berbagai sumber yang kami miliki menunjukkan bahwa Jihad Islam bertanggung jawab atas kegagalan peluncuran roket yang menghantam rumah sakit di Gaza. Saya ulangi, ini adalah tanggung jawab Jihad Islam yang membunuh warga tak bersalah di rumah sakit di Gaza,” ujar Hagari dalam sebuah pernyataan video, Rabu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun sudah merilis pernyataan yang menyangkal IDF bertanggung jawab atas serangan ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Jalur Gaza. “Jadi, seluruh dunia tahu: Teroris biadab di Gaza adalah mereka yang menyerang rumah sakit Gaza, bukan IDF. Mereka yang dengan kejam membunuh anak-anak kami, juga membunuh anak-anak mereka,” ujarnya, dilaporkan Times of Israel.

Jihad Islam telah dengan tegas membantah tudingan Israel yang menyebutnya bertanggung jawab atas serangan ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Gaza. Dalam keterangannya yang dirilis Rabu, Jihad Islam mengungkapkan, mereka dan kelompok perlawanan Palestina lainnya di Jalur Gaza berkomitmen tidak menggunakan tempat ibadah dan fasilitas umum, khususnya rumah sakit. Oleh sebab itu, Jihad Islam menegaskan bahwa tuduhan Israel yang menyebutnya aktor penyerangan Rumah Sakit Baptis Al-Ahli salah dan tidak berdasar.

“Musuh Zionis berusaha keras untuk menghindari tanggung jawab atas pembantaian brutal yang dilakukannya dengan membom Rumah Sakit Nasional Arab Baptis di Gaza melalui kebohongan yang biasa ia lakukan, dan dengan menyalahkan gerakan Jihad Islam di Palestina,” kata Jihad Islam dalam pernyataannya, dikutip laman Iran Front Page.

Sejak pertempuran antara Hamas dan Israel pecah pada 7 Oktober 2023 lalu, setidaknya 3.478 warga Palestina di Jalur Gaza telah terbunuh akibat serangan Israel. Sementara warga Israel yang tewas akibat serangan Hamas mencapai lebih dari 1.400 orang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement