Jumat 27 Oct 2023 12:42 WIB

Pengiriman Bantuan ke Gaza Lamban, PBB: Birokrasinya Gila

Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan, mereka sudah menerima 74 truk bantuan.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Konvoi truk bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza, terlihat diparkir di luar gerbang perbatasan Rafah, di perbatasan Rafah, Mesir,  Selasa (24/10/2023).
Foto: EPA-EFE/Khaled Elfiqi
Konvoi truk bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza, terlihat diparkir di luar gerbang perbatasan Rafah, di perbatasan Rafah, Mesir, Selasa (24/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP) Cindy McCain menyoroti terlalu ketatnya pemeriksaan truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan yang hendak memasuki Jalur Gaza dari pintu penyeberangan Rafah, Mesir. Dia mengatakan, hal tersebut telah memperlambat aliran bantuan ke wilayah yang kini tengah dibombardir Israel tersebut. 

McCain mengatakan, setiap truk yang membawa bantuan kemanusiaan harus menurunkan muatannya di pos pemeriksaan Rafah sebelum memasuki Gaza. Setelah diperiksa, barang-barang dimuat kembali dan baru bisa melintas menuju Gaza.

Baca Juga

“Birokrasinya gila,” ujar McCain menggambarkan proses yang memakan waktu tersebut, Kamis (26/10/2023). 

Meski memahami bahwa pemeriksaan tersebut diperlukan guna memastikan senjata dan amunisi tidak diselundupkan,  tapi McCain berpendapat seharusnya truk pengangkut bahan makanan lebih mudah diizinkan melintas. Dia menekankan, sejauh ini konvoi bantuan kemanusiaan yang telah memasuki Gaza sangat kecil. 

“Kami perlu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kami memerlukan akses yang aman dan tidak terbatas ke Gaza sehingga kami dapat memberi makan dan memastikan bahwa orang-orang tidak mati kelaparan, karena itulah yang sedang terjadi,” ucap McCain.

McCain sempat menemui para pejabat Mesir. Namun terkait pernyataannya tentang terlalu ketatnya proses pemeriksaan konvoi bantuan kemanusiaan, Kairo masih belum memberikan tanggapan resmi.

McCain mengaku mendengar kekhawatiran bahwa bantuan dapat dialihkan kepada Hamas. Namun dia menekankan, WFP memiliki sistem untuk memastikan bantuan sampai ke mereka yang membutuhkan.

“Itu adalah zona perang. Banyak hal akan terjadi. Jadi saya tidak bisa mengatakan 100 persen bahwa tidak ada yang akan berakhir di tangan orang-orang jahat. Tapi kami akan melakukan segala daya kami untuk memastikan hal itu tidak terjadi,” ucapnya.

Tiga truk WFP, yang membawa sekitar 60 ton makanan, telah memasuki Gaza pada Sabtu (21/10/2023) pekan lalu. Sejak saat itu, hanya satu truk WFP yang baru bisa melintas lagi ke Gaza.

Pada Kamis kemarin, Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan, mereka sudah menerima 74 truk bantuan. Jumlah tersebut terbilang sangat kecil. Sebab PBB mengungkapkan, sebelum pertempuran terbaru antara Hamas dan Israel pecah pada 7 Oktober 2023 lalu, sekitar 500 truk pengangkut kebutuhan memasuki Gaza setiap harinya.

Dari seluruh bantuan kemanusiaan yang sudah dialirkan ke Gaza, Israel masih belum mengizinkan adanya pengiriman bahan bakar. Ketiadaan suplai bahan bakar akan menyebabkan rumah sakit dan fasilitas medis di Gaza terancam tak dapat beroperasi karena tak adanya sumber energi.

Hal itu berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut. Sebab Israel masih melancarkan serangan udara secara intensif.

 

Israel mulai membombardir Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu sebagai respons atas serangan dan operasi infiltrasi Hamas. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, hingga Kamis lalu, korban terbunuh akibat agresi Israel ke Gaza telah melampaui 7.000 jiwa, termasuk di dalamnya sekitar 3.000 anak-anak.

Sementara korban luka melampaui 18 ribu orang. Serangan Israel juga menyebabkan sekitar 1,3 juta dari 2,2 juta penduduk Gaza terlantar dan mengungsi. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement