Ahad 05 Nov 2023 15:04 WIB

Kondisi Kian Buruk, Begini Kesengsaraan Ibu Hamil di Gaza

Ibu hamil di Gaza alami kondisi sulit karena minimnya layanan kesehatan.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Natalia Endah Hapsari
Badan kesehatan seksual dan reproduksi PBB (UNFPA) menyatakan, Gaza saat ini menjadi rumah bagi 50 ribu ibu hamil. Sementara 5.500 perempuan diperkirakan melahirkan pada bulan mendatang/ilustrasi
Foto: AP/Adel Hana
Badan kesehatan seksual dan reproduksi PBB (UNFPA) menyatakan, Gaza saat ini menjadi rumah bagi 50 ribu ibu hamil. Sementara 5.500 perempuan diperkirakan melahirkan pada bulan mendatang/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Masyarakat yang tinggal di Gaza telah kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, obat-obatan, dan layanan kesehatan. Perempuan hamil adalah salah satu kelompok yang paling rentan terkena dampak kehancuran total sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza akibat serangan Israel yang sedang berlangsung.

Badan kesehatan seksual dan reproduksi PBB (UNFPA) menyatakan, Gaza saat ini menjadi rumah bagi 50 ribu perempuan hamil. Sementara 5.500 perempuan diperkirakan akan melahirkan pada bulan mendatang, dengan total lebih dari 160 kelahiran per hari.

Baca Juga

Di tengah serangan yang sedang berlangsung, kehamilan yang merupakan peristiwa hidup yang menggembirakan bagi banyak orang dibayangi oleh kehancuran. Juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Gaza Hisham Mhanna mengatakan, ribuan perempuan, termasuk istrinya, di Gaza sedang menunggu untuk menyambut anak-anak mereka di tengah keadaan yang mengerikan.

“Biasanya, kami merayakan setiap pencapaian luar biasa ini dalam hidup kami. Saya rasa tidak ada bayi yang boleh lahir dalam keadaan seperti itu," kata Mhanna dikutip dari Al Arabiya, Ahad (5/11/2023).

Lebih dari sepertiga rumah sakit di Gaza atau 12 dari 35 dan hampir dua pertiga klinik layanan kesehatan primer atau 46 dari 72  telah ditutup. Menurut UNFPA, kondisi ini akibat kerusakan akibat serangan atau kekurangan bahan bakar.

Banyak rumah sakit yang masih berfungsi telah mengubah bangsal bersalin menjadi ruang gawat darurat atau ruang operasi. Para dokter harus mengambil keputusan sulit dengan menolak pasien dan merujuk mereka ke rumah sakit lain, yang terkadang tidak aman untuk dijangkau. “Ibu hamil pada tahap ini dianggap rentan. Mereka membutuhkan perawatan medis,” kata Mhanna.

Mhanna menyatakan, calon ibu membutuhkan pikiran yang tenang untuk mempersiapkan persalinan. “Suara ledakan, menghabiskan sepanjang malam dalam kegelapan, tidak dapat memanggil ambulans kapan pun Anda membutuhkannya, mengingat masalah komunikasi dan internet,” kata juru bicara tersebut menggambarkan situasi yang dihadapi perempuan hamil.

Selain dampak psikologis, kekurangan bahan bakar dan masalah transportasi telah menyebabkan banyak perempuan hamil tidak memiliki akses yang aman terhadap perawatan medis yang sangat mereka butuhkan. Juru bicara ICRC menjelaskan, lembaga itu harus menyimpan cadangan bahan bakar di mobilnya jika  perlu mengantar istrinya ke rumah sakit kapan saja atau pergi ke apotek untuk mendapatkan obat-obatan ketika istrinya akan melahirkan.

Salah satu perempuan hamil yang tidak mendapatkan perawatan medis yang diperlukan adalah Reham Rashed. “Saya hamil dua bulan, dan saya pernah mengalami pendarahan sebelumnya. Ada pengobatan yang harus saya jalani, tapi saya tidak bisa menjalaninya,” kata perempuan yang berusia 24 tahun.

Calon ibu ini berlindung bersama keluarganya di Rumah Sakit al-Shifa, begitu pula ribuan warga Gaza lainnya. Rashed juga mengatakan, tidak bisa mengonsumsi asam folat, suplemen yang dibutuhkan perempuan hamil untuk membantu mencegah cacat lahir besar pada otak dan tulang belakang bayi.

Selain terhambat dalam mendapatkan akses kesehatan, serangan Israel juga telah membunuh banyak perempuan hamil dan janin yang dikandung. Islam Hussein berusia 35 tahun adalah salah satu yang selamat.

Hussein sedang berada di rumahnya bersama ibu, putra, dan putrinya ketika serangan Israel menghantam gedung di sebelah mereka. “Mereka mengebom rumah di sebelah kami. Lalu kami tidak tahu apa yang terjadi. Saya merasakan puing-puing di sekujur tubuh saya dan saya tidak bisa bergerak. Saya mulai berteriak... sampai tim penyelamat menemukan saya. Mereka akhirnya mendengar dan datang dan membawa saya keluar,” ujarnya.

Sementara putra Hussein gugur dalam serangan itu, Hussein selamat bersama putrinya dan bayinya yang baru lahir. Dokter segera membawanya ke operasi caesar darurat 10 hari sebelum tanggal kelahirannya karena denyut nadi bayinya lemah.

Laporan mengenai prosedur persalinan, termasuk operasi caesar, yang dilakukan tanpa anestesi telah muncul, menyoroti kekurangan pasokan medis yang drastis di Gaza. Para ibu yang harus menunda jadwal persalinan karena tidak tersedianya ruang operasi dan pasokan medis yang diperlukan.

Mhanna memandang kondisi fasilitas kesehatan dan kekurangan pasokan tidak akan pulih dalam waktu cepat.  “Perlu waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya," katanya.

Menurut Mhanna, kebutuhan mendesak akan jeda kemanusiaan, bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan, dan perlindungan rumah sakit serta tim medis diperlukan agar sistem layanan kesehatan dapat terus menyediakan layanan bagi mereka yang membutuhkan. Bukan hanya ibu hamil saja yang menderita, tetapi penyandang disabilitas, pasien cuci darah ginjal, dan pasien kanker juga ikut merasakannya.

“Mereka semua sekarang berada dalam lingkaran risiko karena hidup mereka, kualitas hidup mereka, bergantung pada pemeliharaan layanan kesehatan yang mereka butuhkan tepat waktu,” kata Mhanna. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement