Selasa 14 Nov 2023 03:18 WIB

Ini Gambaran Mengerikan Saat Warga Gaza Pergi ke Selatan

Sejumlah besar mayat dan potongan tubuh berserakan di jalanan

Rep: Amri Amrullah/ Red: Esthi Maharani
Warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza selatan di Jalan Salah al-Din di Bureij, Jalur Gaza, pada Rabu, (8/11/2023).
Foto: Israel, Palestinians
Warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza selatan di Jalan Salah al-Din di Bureij, Jalur Gaza, pada Rabu, (8/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Ahli bedah Palestina Haya al-Sheikh Khalil akhirnya ikut bersama warga Gaza lainnya mengungsi ke selatan. Hal ini terpaksa dilakukan karena ia merasa sudah tidak punya pilihan dan RS Al-Shifa tempatnya mengabdi sudah tidak bisa lagi beroperasi.

Namun, keputusan untuk pergi ke selatan Gaza, baginya merupakan hal yang menakutkan. Khalil dan yang lainnya yang meninggalkan al-Shifa pada Jumat (10/11/2023) dengan berjalan kaki.

Baca Juga

"Dengan membawa dokumen identifikasi kami, kami tidak yakin dengan tujuan kami," katanya kepada Middle East Eye.

Ia harus pergi dengan menyaksikan pemandangan kematian dan kehancuran yang mengerikan dalam perjalanan menuju selatan.

"Jalanannya sangat menakutkan. Di sekeliling kami terdapat bangunan yang dibom dan hancur, dengan sejumlah besar mayat dan potongan tubuh berserakan di jalan, termasuk orang-orang dan hewan-hewan yang menjadi sasaran. Kami melarikan diri dengan memegang kartu identitas kami dengan jelas, dan tidak diizinkan untuk berbelok ke kanan atau ke kiri," katanya.

Dia mengatakan bahwa mereka bertemu dengan sekitar tujuh tank di sebuah pos pemeriksaan, beberapa buldoser, dan sekitar 20 tentara Israel yang mengelilingi tank-tank tersebut. Mereka yang mencoba melintas namun tidak membawa kartu identitas dihentikan dan diinterogasi "dengan cara yang menghina".

"Jalan itu seperti mimpi buruk. Evakuasi dilakukan di bawah bombardir udara dan artileri, dengan tentara yang mengarahkan senapannya kepada kami. Kami berjalan jauh di bawah panas terik. Itu melelahkan dan menakutkan," tambahnya

Khalil, bersama dua saudara laki-lakinya yang berprofesi sebagai dokter, dan sejumlah rekannya harus berjalan kaki selama 3,5 jam hingga mencapai rumah perlindungan di kamp Nuseirat di Jalur Gaza bagian tengah.

Dalam perjalanan, Khalil mengatakan bahwa tentara Israel mencegah mereka yang berjalan dari utara ke selatan Gaza untuk berbelok ke kanan atau ke kiri. Mereka juga menangkap banyak pemuda untuk diinterogasi, dipukuli, dan mengalami kekerasan.

"Kami melihat tentara penjajah menyerang seorang pemuda Palestina dan memaksanya untuk melepaskan pakaiannya. Mereka juga memukuli dan menghina seorang pemuda lain dan anaknya yang masih kecil," katanya.

Khalil dan sekelompok dokter yang menemaninya akhirnya menuju ke pusat penampungan di sekolah yang dikelola oleh badan bantuan PBB, Unrwa, di kamp Bureij, Jalur Gaza tengah, sebelah timur Nuseirat. Jumlah pengungsi di sekolah itu sangat mengejutkan dan tidak ada tempat untuk menampung lebih banyak orang.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement