Jumat 08 Dec 2023 07:20 WIB

Israel Lakukan Penangkapan Massal Warga Sipil di Gaza

Puluhan orang ditangkap oleh tentara Israel di daerah-daerah di Gaza utara.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Warga berjalan kaki saat melakukan evakuasi di Jalur Gaza Utara, Ahad (5/11/2023).
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Warga berjalan kaki saat melakukan evakuasi di Jalur Gaza Utara, Ahad (5/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Pasukan Israel terus melakukan serangan di wilayah yang terkepung, Gaza dalam upaya merebut jantung kota utama Gaza selatan pada Kamis (7/12/2023). Namun, berbagai serangan yang sulit diprediksi terus dilancarkan Hamas, membuat Israel harus menangkap banyak warga sipil yang dicurigai.

Puluhan orang ditangkap oleh tentara Israel di daerah-daerah di Gaza utara, termasuk koresponden The New Arab, Al Araby Al Jadeed. Para pria tersebut ditangkap di bawah todongan senjata, ditelanjangi dan diangkut ke sebuah lokasi yang dirahasiakan, menurut para saksi mata.

Baca Juga

Masuk ke kota terbesar kedua di Gaza, pasukan Israel, tank, pengangkut personel lapis baja, dan buldoser meluncur ke Khan Younis. Mereka memaksa warga sipil yang telah mengungsi untuk ke sekian kalinya, mengungsi lagi.

Pada Kamis, sedikitnya 17.177 warga Palestina telah meninggal dunia hingga saat ini, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina. sementara 1.200 orang terbunuh dalam serangan Hamas ke Israel, menurut perhitungan Israel.

Namun, organisasi-organisasi kemanusiaan telah memperingatkan Israel, bahwa penyebaran perang ke bagian selatan Jalur Gaza akan menambah perang berkepanjangan. Termasuk akan membuat warga sipil yang melarikan diri dari bagian utara semakin sengsara, karena sebagian besar harapan mereka telah hancur, tidak memiliki tempat tujuan.

Kantor kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa wilayah Khan Younis, yang terkena dampak perintah evakuasi Israel, telah mengungsikan sekitar 178.000 penduduk. Jumlah ini merupakan total dari warga yang sebelumnya warga asli, dianggap sebagai tempat tinggal mereka dan 170.000 orang Palestina yang datang mengungsi.

"Dua bulan berlalu, situasi di Gaza menjadi seperti kiamat. Seiring dengan meluasnya permusuhan, orang-orang dipaksa masuk ke daerah-daerah yang semakin terbatas di bagian selatan, dan upaya-upaya kemanusiaan yang berarti menjadi hampir mustahil," demikian pernyataan lembaga PBB di aplikasi X, Kamis.

Banyak warga sipil yang mengungsi ke Khan Younis setelah Israel memerintahkan evakuasi dari bagian utara wilayah itu pada awal perang. Di wilayah Utara, sebagian besar wilayah itu telah menjadi puing-puing akibat pertempuran sengit dan pengeboman, menyebabkan 1,9 juta orang mengungsi menurut data PBB.

Sedangjan di Gaza selatan, sebuah serangan di sebuah distrik pemukiman di Rafah menewaskan 17 orang dan puluhan lainnya luka-luka pada Rabu malam, kata kementerian kesehatan Hamas. Seorang jurnalis AFP melihat para korban luka-luka, termasuk anak-anak, dibawa ke rumah sakit setempat di Kuwait.

Perang tersebut telah memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas, dengan baku tembak hampir setiap hari dengan kelompok Hizbullah di perbatasan Israel dengan Lebanon. Selain itu, terjadi juga lonjakan kekerasan mematikan di Tepi Barat yang diduduki, oleh pemukim Yahudi.

Otoritas Palestina mengatakan lebih dari 250 warga Palestina telah terbunuh oleh tembakan Israel atau serangan pemukim sejak perang dimulai.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement