Rabu 20 Dec 2023 16:01 WIB

AS: Israel Harus 'Berbuat Lebih Banyak' atas Kekerasan di Tepi Barat

Selama dua bulan terakhir, terjadi lonjakan antisemitisme dan Islamofobia.

Warga Palestina yang terluka akibat pemboman Israel di Jalur Gaza dibawa ke rumah sakit di Deir al Balah, Jalur Gaza, pada Selasa, 19 Desember 2023.
Foto: AP Photo/Adel Hana
Warga Palestina yang terluka akibat pemboman Israel di Jalur Gaza dibawa ke rumah sakit di Deir al Balah, Jalur Gaza, pada Selasa, 19 Desember 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Seorang diplomat Amerika Serikat (AS) mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim di Tepi Barat, Selasa (19/12), dan menuntut agar Israel "berbuat lebih banyak" untuk menghentikan serangan.

"Seperti yang ditekankan oleh Koordinator Khusus Wennesland, peristiwa yang terjadi di Tepi Barat selama setahun terakhir telah menjauhkan kita dari kenyataan tersebut," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood, kepada Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga

Dalam pernyataan itu, ia menyebut Tor Wennesland, yang adalah Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Proses Perdamaian Timur Tengah. Wood juga mengacu pada kenyataan yang ia maksud tersebut pada halangan-halangan untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka. "Itu termasuk pembangunan permukiman yang sedang berlangsung di Tepi Barat, yang melemahkan kemungkinan tersebut," kata Wood.

AS juga mengutuk "serangan kekerasan ini. "Kami yakin para pelaku harus mempertanggungjawabkan aksi mereka itu," katanya, menegaskan.

Wood juga menegaskan, pihaknya telah berulang kali menggarisbawahi kepada Israel bahwa mereka juga harus berbuat lebih banyak untuk menyelidiki kekerasan ini dan meminta pertanggungjawaban para pemukim ekstremis yang melakukan tindakan tersebut. "Lebih dari itu, pejabat Israel tidak boleh memperparah kekerasan ini dengan retorika yang menghasut dan tidak manusiawi, karena kita telah melihat bagaimana kata-kata mempunyai konsekuensi tidak hanya di Tepi Barat tetapi juga di seluruh dunia," katanya, menambahkan.

Selama dua bulan terakhir, menurut Wood, terjadi lonjakan antisemitisme dan Islamofobia. Beralih kesoal serangan terhadap jurnalis, Wood mengatakan lebih banyak hal yang harus dilakukan untuk melindungi para jurnalis.

Jurnalis pun tidak hanya menyaksikan apa yang terjadi. "Tidak ada panggilan yang lebih mulia daripada mengatakan kebenaran. Kata-kata jurnalis mengubah hati dan pikiran serta menggerakkan orang untuk bertindak," ujarnya.

Serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza, sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober, telah menewaskan sedikitnya 19.667 warga Palestina yang sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak, kata otoritas kesehatan Gaza. 

Rentetan serangan Israel juga melukai 52.586 warga, menurut otoritas di daerah kantong Palestina tersebut. Perang tersebut telah menyebabkan kehancuran di Gaza. Setengah dari persediaan perumahan di wilayah pesisir tersebut rusak atau hancur, dan hampir dua juta orang mengungsi di daerah kantong padat penduduk itu.

Daerah kantong itu sendiri sedang kekurangan makanan dan air bersih. Hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas, sementara lebih dari 130 orang masih disandera.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement