Kamis 04 Jan 2024 14:46 WIB

Giliran Jerman Kecam Gagasan Menteri Israel Soal Pengusiran Warga Gaza

Jerman meyakini solusi dua negara adalah cara untuk menyelesaikan konflik.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Seorang anak laki-laki Palestina menjual kayu di luar tempat penampungan keluarganya di Rafah, jalur Gaza selatan, (3/1/2024).
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Seorang anak laki-laki Palestina menjual kayu di luar tempat penampungan keluarganya di Rafah, jalur Gaza selatan, (3/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Jerman mengecam Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich karena mengusulkan pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza. Sebelum Jerman, Amerika Serikat (AS) juga telah mengecam rencana kedua menteri Israel tersebut.

“Posisi kami jelas, tidak boleh ada pengusiran atau pengurangan wilayah Jalur Gaza,” kata seorang juru bicara (jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Jerman terkait usulan Ben-Gvir dan Smotrich tentang pengusiran warga Gaza, dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, Rabu (3/1/2024).

Baca Juga

Jubir Kemenlu Jerman itu menambahkan, negaranya menolak dalam istilah paling kuat, pernyataan yang dibuat Ben-Gvir dan Smotrich tentang pengusiran warga Gaza ke negara lain. Dia menegaskan, Jerman meyakini solusi dua negara adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebelumnya Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller telah mengkritik keras Ben-Gvir dan Smotrich karena menganjurkan pengusiran warga Gaza. “AS menolak pernyataan Menteri Israel Smotrich dan Ben-Gvir yang menghasut serta tidak bertanggung jawab. Seharusnya tidak ada pengungsian massal warga Palestina dari Gaza,” kata Miller lewat akun X resminya, Rabu lalu.

Dia menegaskan, AS akan tetap memandang Gaza sebagai bagian dari wilayah Palestina. Namun Washington memang menolak Hamas kembali memerintah di wilayah tersebut. “Kami sudah jelas, konsisten, dan tegas bahwa Gaza adalah tanah Palestina dan akan tetap menjadi tanah Palestina, dengan Hamas tidak lagi mengendalikan masa depannya serta tidak ada kelompok teror yang dapat mengancam Israel,” ucap Miller.

“Itu masa depan yang kami cari, demi kepentingan Israel dan Palestina, kawasan sekitarnya, dan dunia,” tambah Miller. Setelah pernyataan Miller dirilis, Ben-Gvir membuat komentar yang intinya menegaskan bahwa dia tetap mempertahankan gagasannya soal pengusiran warga Gaza.

“AS adalah teman terbaik kami, tapi pertama-tama kami akan melakukan yang terbaik untuk negara Israel, migrasi ratusan ribu orang dari Gaza akan memungkinkan penduduk (Israel) untuk kembali ke rumah dan hidup dalam keamanan, serta akan melindungi tentara IDF Pasukan Pertahanan Israel,” kata Ben-Gvir lewat akun Twitter (X) resminya, dikutip laman Al Arabiya, Rabu lalu.

Sebelumnya, Smotrich menyerukan agar ada negara-negara yang bersedia menampung warga Gaza. Bulan lalu, Pemerintah Israel membantah tuduhan yang menyebutnya berusaha mengusir paksa penduduk Palestina keluar dari Jalur Gaza. Mereka menyatakan hanya berupaya menumpas kelompok Hamas sebagai respons atas serangan dan operasi infiltrasinya tanggal 7 Oktober 2023. 

“Ini tentu saja merupakan tuduhan yang keterlaluan dan salah,” ujar juru bicara Pemerintah Israel, Eylon Levy, ketika ditanya tentang upaya mengusir penduduk Palestina keluar dari Jalur Gaza, 10 Desember 2023 lalu, dikutip laman Al Arabiya.

“Israel berjuang untuk mempertahankan diri dari monster-monster yang melakukan pembantaian 7 Oktober, dan tujuan dari kampanye kami adalah untuk membawa monster-monster itu ke pengadilan dan memastikan mereka tidak lagi menyakiti rakyat kami,” tambah Levy.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement