Senin, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Senin, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Vladimir Putin Kembali Terpilih Jadi Presiden Rusia

Senin 19 Maret 2018 14:48 WIB

Rep: rizkyan adiyudha/ Red: Nur Aini

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Foto: AP
Putin akan memimpin Rusia enam tahun ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Vladimir Putin resmi kembali menempati kantor kepresiden Rusia hingga 2024. Hasil resmi pemilu Rusia yang telah selesai dihitung menempatkan Putin dalam urutan teratas sebagi pilihan masyarakat untuk memimpin negara.

Putin mendapatkan lebih dari 76 persen dukungan masyarakat. Kemenangan itu membuat Putin berkesempatan memimpin Rusia selama enam tahun ke depan. Putin berjanji akan meningkatkan pertahanan Rusia terhadap Barat dan meningkatkan standar pendapatan warga pada masa jabatan kali ini.

"Terima kasih untuk dukungan kalian, semua yang memberikan suara merupakan bagian dari tim nasional negara," kata Putin saat merayakan kemenangannya di Manezhnaya Square, Moskow seperti diwartakan Guardian, Senin (19/3).

Dalam deklarasi kemenangannya itu, Putin sempat ditanya jurnalis seputar pencalonan dirinya kembali sebagai kepala negara untuk enam tahun berikutnya. Putin lantas menjawab pertanyaan tersebut sambil tertawa.

"Apa yang Anda katakan sangat konyol. Apa Anda pikir saya akan berada di sini hingga usia 100 tahun? Tidak," katanya.

Perolehan suara Vladimir Putin diakui lebih dari perkiraan. Meski terbilang tidak memiliki lawan, suara yang didapatkan Putin telah mencapai 60 persen hingga pukul 21.00 GMT. Tim awalnya berharap suara paling tidak menyamai perolehan suara pemilu 2012 lalu sebesar 65 persen.

Pesaing terdekat Putin adalah Pavel Grudinin yang menampung sekitar 12 suara. Sementara kandidat lain seperti Ksenia Sobchak, Grigory Yavlinsky, Boris Titov dan Maxim Suraikin, Sergey Baburin mendapatkan suara kurang dari 10 persen.

Ketua tim kampanye Putin mengatakan, tingginya suara kemungkinan disebabkan konflik dengan Inggris terkait tuduhan racun mata-mata Rusia. Diapun mengaku bertima kasih kepada Inggris terkait hal tersebut yang berdampak pada perolehan suara Putin.

"Angka ini melibihi ekspektasi, kami harus berterima kasih pada Inggris karena mereka sekali lagi tidak memperhitungkan mentalitas Rusia. Sekali lagi kami mendapat tekanan pada saat kami harus memobilisasi," katanya.

Sementara lembaga dari lawan politik Putin yang gagal menjadi calon presiden Alexei Navalny mengatakan, adanya sejumlah pelanggaran dalam pemilu kali ini. Meski demikian, komite pemilihan Rusia menegaskan jika tidak ada pelanggaran serius yang terjadi.

Baca juga: Diplomasi Kopi Presiden Jokowi di Selandia Baru

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES