Selasa 17 Apr 2018 23:45 WIB

Ketegangan Hubungan Turki dan Yunani Meningkat

Turki dan Yunani bersengketa wilayah Laut Aegea.

Red: Nur Aini
Bendera Yunani/ilustrasi
Foto: greecepictures.org
Bendera Yunani/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Harapan bagi Yunani dan Turki untuk menghapuskan pertikaian wilayah mereka, yang sudah berlangsung lama, mengalami kemunduran dalam beberapa pekan belakangan. Kedua negara anggota NATO itu menghadapi peningkatan ketegangan di Laut Aegea.

Beberapa warga sipil Yunani mengibarkan bendera Yunani di satu pulau karang kecil yang menjadi sengketa di seberang tempat wisata Turki, Didim. Tapi bendera tersebut dicabut oleh penjaga pantai Turki pada Ahad (15/4).

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mendesak Pemerintah Yunani agar menghindari tindakan provokatif di daerah sengketa di Laut Aegea.

"Saran kami kepada Yunani ialah tetap berada di dalam ikatan hubungan bertetangga yang baik dan menghindari provokasi yang akan meningkatkan ketegangan," kata Yildirim.

Ia membandingkan pengibaran benderan tersebut dengan peristiwa pada 1996, ketika Turki dan Yunani nyaris terlibat perang sehubungan dengan pulau kecil yang tak berpenghuni, yang dinamakan Imia di Yunani dan dinamakan Kardak di Turki.

"Populisme tak memberi manfaat bagi Yunani. Sebagai dua sekutu NATO, kita mesti memusatkan perhatian pada agenda positif," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Senin, sebagaimana dikutip Xinhua. Ia memperingatkan pemerintah di Athena bahwa tindakan semacam itu di Laut Aegea bisa mengakibatkan "insiden".

Juru Bicara Pemerintah Yunani Dimitris Tzannakopoulos mengatakan pemerintahnya tidak mengetahui peristiwa tersebut dan pernyataan Yildirim adalah "provokatif dan tercela". Pada Februari, satu kapal Turki bertabrakan dengan satu perahu penjaga pantai Yunani di lepas pantai pulau kecil yang menjadi sengketa, Kardak.

Pada Januari, Penjaga Pantai Turki menghalangi Menteri Pertahanan Yunani Panos Kammenos mendekati Pulau Kardak untuk meletakkan karangan bunga di sana. Ankara menuduh Kammenos, politikus nasionalis, menjadi sumber utama masalah baru-baru ini.

Pada 1923, Turki melepaskan semua hak dan kepemilikan atas pulau tertentu dan atas "pulau kecil independen" untuk Italia dalam Kesepakatan Lausanne. Belakangan, Italia menyerahkan kepada Yunani pulau yang sama dan "pulau kecil yang berdekatan".

Turki dan Yunani telah mengadakan perundingan, dan menyerukan penyelenggaraan "pembicaraan penjajakan" guna menyelesaikan ketidak-sepakatan wilayah mereka di Laut Aegea. Namun mereka telah gagal mencapai terobosan.

Alasan ketegangan terbaru tidak terbatas pada beberapa pulau karang. Kedua negara itu telah terlibat pertikaian mengenai sejumlah masalah mulai dari Siprus, yang terpecah secara etnik, sampai kedaulatan atas wilayah udara, dan hak untuk terbang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement