Jumat 25 Mar 2016 22:52 WIB

Surat Perintah Pengunduran Diri Xi Jinping Beredar, 17 Orang Ditahan

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ilham
Presiden Cina Xi Jinping.
Foto: Reuters
Presiden Cina Xi Jinping.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Sebanyak 17 orang ditahan kepolisian Cina menyusul adanya penerbitan surat terbuka yang meminta Presiden Cina Xi Jinping mengundurkan diri. Surat itu dikirim awal bulan ini di sebuah situs media yang didukung negara Wujie News.

Surat itu ditandatangani oleh anggota Partai Komunis setia dan telah dihapus beberapa jam kemudian. Meski segera dihapus oleh pihak berwenang, versi cache masih dapat ditemukan secara online.

"Kami menulis surat ini meminta Anda untuk mengundurkan diri dari semua posisi kepemimpinan partai dan negara," salah satu kalimat dalam surat tersebut dilansir dari BBC News, Jumat (25/3).

Di Cina, khususnya pada situs dengan link resmi, hal semacam ini tidak pernah terjadi. Sebab, sudah ada tanda-tanda adanya tanggapan tegas oleh pihak berwenang.

Seperti diberitakan Hong Kong Free Press, pada 15 Maret kolumnis terkemuka Jia Jia dibawa oleh otoritas di bandara Beijing sesaat sebelum menaiki pesawat ke Hong Kong dan kabarnya belum terdengar kabarnya sejak saat itu. Penahanannya secara luas dilaporkan sehubungan dengan surat tersebut. Anggota staf Wujie yang meminta tak disebutkan nama mengatakan, selain Jia Jia, 16 orang lainnya telah ditahan.

Mereka termasuk enam rekan-rekan yang bekerja secara langsung untuk website, termasuk manajer senior dan editor senior. 10 orang lainnya bekerja untuk sebuah perusahaan tekologi terkait.

Surat itu pertama kali muncul di sebuah situs berbahasa Cina yang berbasis di luar negeri, di luar ranah sensor Partai Komunis. Tapi pertanyaan besarnya adalah bagaimana kemudian bisa masuk ke website Wujie.

Surat kabar Hongkong Apple Daily, Kamis (24/3) melaporkan, sangat tidak mungkin editor Cina dengan pikiran waras mempublikasikan dokumen semacam itu. "Wuji tidak begitu bodoh untuk main-main dengan cara itu," kata sebuah sumber.

Spekulasi dari beberapa wartawan Cina pun bermunculan dan menduga Wujie diretas atau mungkin menggunakan beberapa jenis jaringan otomatis dan perangkat lunak penerbitan. Teori tersebut dapat menjelaskan penahanan 10 staf teknologi.

Setelah surat itu dihapus, situs Wujie tidak dapat diakses untuk sementara waktu, tapi sekarang telah berjalan kembali. Wartawan yang tersisa telah berhenti menulis artikel baru untuk situs tersebut, mereka mempublikasi ulang bahan berita dari Xinhua dan People's Daily.

Wujie yang dikenal sebagai Watching dalam bahasa Inggris didirikan pada 2015 dengan dana dari raksasa internet Alibaba serta pemerintah provinsi Xinjiang di barat laut Cina. Wujie dimiliki bersama oleh Media Group SEEC yang menjalankan majalah terkenal Cina, Caijing.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement