Sabtu 19 Aug 2023 20:06 WIB

Cina dan Perjalanan Politiknya Hingga Seperti Saat Ini

Landasan politik modern Cina dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Bendera Cina. Ilustrasi.
Foto: Reuters
Bendera Cina. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah politik modern di Cina adalah narasi yang kompleks dan beragam yang melintasi lebih dari satu abad perubahan revolusioner, transformasi ideologis, dan gejolak sosial. Dari keruntuhan Dinasti Qing hingga munculnya Republik Rakyat Cina, perjalanan politik Cina memberikan dampak mendalam pada tata pemerintahan, identitas, dan posisi global negara ini.

Landasan politik modern Cina dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ketika Dinasti Qing, salah satu monarki tertua di dunia, menghadapi konflik internal dan tekanan eksternal. Ketidakpuasan terhadap pemerintahan imperial, pengaruh asing, dan kesulitan ekonomi mengarah pada serangkaian pemberontakan dan akhirnya keruntuhan Dinasti Qing pada tahun 1911. Ini menandai awal dari Era Republik dan pendirian Republik Cina di bawah pimpinan Sun Yat-sen.

Baca Juga

Era Republik ditandai oleh ketidakstabilan politik, dengan panglima perang mengendalikan berbagai wilayah di Cina dan bersaing untuk kekuasaan. Di tengah gejolak ini, arus ideologi yang berbeda, termasuk nasionalisme dan komunisme, mendapatkan dukungan. Gerakan 4 Mei 1919, yang dipicu oleh protes mahasiswa terhadap Perjanjian Versailles, menjadi tanda tumbuhnya nasionalisme Cina dan panggilan untuk reformasi politik dan budaya.

Partai Komunis Cina (PKC), yang didirikan pada tahun 1921, muncul sebagai kekuatan penting yang menganjurkan perubahan sosial dan politik radikal. Dipimpin oleh tokoh seperti Mao Zedong, PKT berusaha mengatasi masalah reforma agraria, ketidaksetaraan, dan pengaruh asing. Perang Saudara Cina antara Partai Nasionalis (Kuomintang atau KMT) dan PKT semakin intensif, mengarah pada pendirian dua entitas Cina yang terpisah: Republik Rakyat Cina di daratan dan Republik Cina di Taiwan.

Pendirian Republik Rakyat Cina pada tahun 1949 menandai titik balik dalam sejarah Cina. Di bawah kepemimpinan Mao Zedong, pemerintahan komunis yang baru melaksanakan serangkaian reformasi sosial dan ekonomi radikal, termasuk redistribusi tanah, kolektivisasi, dan "Lompatan Besar". Yang terakhir, sayangnya, menyebabkan kelaparan dan penurunan ekonomi yang tragis.

Revolusi Kebudayaan, yang dimulai oleh Mao pada tahun 1966, bertujuan membersihkan Cina dari elemen "borjuis" dan mempromosikan ideologi komunis. Periode ini ditandai oleh mobilisasi massal, pembersihan politik, dan gejolak sosial. Revolusi Kebudayaan menyebabkan penderitaan meluas dan meninggalkan dampak yang berkelanjutan pada masyarakat Cina.

Setelah kematian Mao pada tahun 1976, Cina mengalami transformasi signifikan di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping. Pengenalan reformasi ekonomi dan kebijakan "keterbukaan" menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi yang cepat. Zona Ekonomi Khusus didirikan, menarik investasi asing dan mempromosikan perdagangan.

Akhir abad ke-20 menyaksikan kemajuan ekonomi sekaligus tantangan politik. Protes Lapangan Tiananmen tahun 1989, yang menuntut reformasi politik dan hak demokratis, dihadapi dengan tindakan keras. Peristiwa ini menggarisbawahi ketegangan antara liberalisasi ekonomi dan pengendalian politik.

Pengalihan kedaulatan atas Hong Kong dari Britania Raya ke Cina pada tahun 1997 menandai momen penting dalam politik modern Cina. Prinsip "satu negara, dua sistem" dimaksudkan untuk memastikan otonomi Hong Kong, tetapi keprihatinan tentang pelanggaran kebebasan dan otonomi terus berlanjut.

Di bawah Presiden Xi Jinping, Cina mengejar kebijakan luar negeri yang tegas dan memulai inisiatif domestik yang ambisius. Inisiatif Sabuk dan Jalan bertujuan meningkatkan konektivitas infrastruktur dan perdagangan global, sementara tindakan keras terhadap oposisi dan peningkatan pengawasan menimbulkan kekhawatiran tentang hak asasi manusia dan kebebasan politik.

Kemajuan teknologi Cina yang cepat, termasuk dalam bidang kecerdasan buatan dan jaringan 5G, memposisikan negara ini sebagai pemimpin teknologi global. Perkembangan ini memiliki implikasi baik untuk tata pemerintahan domestik maupun pengaruh internasional.

Sejarah politik modern di Cina adalah saga dinamis yang ditandai oleh semangat revolusi, percobaan ideologi, dan perubahan sosial yang kompleks. Dari keruntuhan pemerintahan imperial hingga munculnya kekuatan global, perjalanan politik Cina mencerminkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan situasi baru sambil menghadapi tantangan dan peluang dunia modern. 

Saat ini Cina terus memainkan peran yang semakin penting di panggung global, sejarahnya menjadi pengingat tentang interaksi rumit antara politik, budaya, dan masyarakat dalam membentuk jalannya nasib suatu bangsa. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement