Jumat , 13 Oktober 2017, 16:05 WIB

Rekonsiliasi Hamas-Fatah, PLO: Wujud Persatuan Nasional

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
AP/Khalil Hamra
 Warga Palestina di Gaza City, Kamis (12/10), menyambut gembira kesepakatan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah.
Warga Palestina di Gaza City, Kamis (12/10), menyambut gembira kesepakatan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Hanan Ashrawi menyambut baik kesepakatan rekonsiliasi yang telah tercapai antara Fatah dan Hamas di Kairo, Mesir, Kamis (12/10). Ia menilai, kesepakatan tersebut mengindikasikan perkembangan nyata dalam sejarah Palestina kontemporer.

"Atas nama komite PLO, kami menyambut baik kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani di Kairo sebagai ungkapan komitmen dan dukungan yang kuat untuk mewujudkan rekonsiliasi asli dan persatuan nasional diPalestina," ujar Ashrawi, seperti dikutip kantor berita Palestina WAFA.

Menurutnya, rakyat Palesitina harus dapat mengapresiasi pencapaian nasional yang besar ini. Tentu tanpa melupakan Mesir yang telah mendukung dan memainkan peran penting dalam mewujudkan kesepakatan rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas.

Mengingat kenyataan politik domestik dan kondisi regional, Ashrawi berpendapat sangat penting implementasi konkret dari komitmen bersama yang telah tercapai.  Di antaranya, membuka jalan bagi rekonstruksi Gaza, menggelar pemilihan parlemen dan presiden nasional,reformasi dan revitalisasi sistem politik, institusi, dan demokrasi Palestina.

"Tindaklanjut harus menjamin bahwa semua langkah konsisten dengan Undang-Undang Dasar dan Deklarasi Kemerdekaan untuk menjamin perlindungan hak-hak dan kebebasan fundamental dan pembentukan sistem pemerintahan yang baik berdasarkan pada meritokrasi dan integritas. Kesepakatan ini juga harus didasarkan pada fondasi politik dan struktural yang sangat jelas, yang menjamin dukungan rakyat untuk proses rekonsiliasi dan memberikannya momentum untuk sukses," tutur Ashrawi.

PLO berharap masyarakat internasional juga dapat menyambut kesepakatan yang telah tercapai antara Hamas dan Fatah dan selanjutnya bekerja sama dengan Palestina. Tidak hanya untuk mengangkat pengepungan ilegal Gaza dan melakukan rekonstruksi, namun juga menjamin perdamaian yang adil dan komprehensif dan pembentukan sebuahnegara yang berdaulat. "Negara Palestina di perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya," ujar Ashrawi menegaskan.

Berita Terkait