Selasa , 14 November 2017, 13:58 WIB

Hariri: Saya tidak Ditahan Saudi dan Siap ke Lebanon

Rep: Marniati/ Red: Elba Damhuri
SPA
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri di Riyadh pada Senin (6/11).
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri di Riyadh pada Senin (6/11).

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Manta perdana menteri Lebanon Saad Hariri, Senin (13/11), telah menolak rumor bahwa dia ditahan di Arab Saudi. Ia berjanji akan segera kembali ke Beirut untuk menegaskan keputusannya mundur sebagai perdana menteri Lebanon.

Hariri yang bersekutu dengan Saudi mengisyaratkan, dia masih dapat membatalkan pengunduran dirinya jika Hizbullah setuju tidak melecut konflik regional seperti di Yaman. Menurut dia, mata pencaharian ratusan ribu orang Lebanon di Teluk dapat terpengaruh, juga perdagangan, sektor penting bagi stabilitas ekonomi Lebanon.

“Kami tahu ada sanksi Amerika (menargetkan Hizbullah), tetapi apakah kita menambahkan juga sanksi Arab? Apa kepentingan kita dalam hal itu sebagai orang Lebanon? Karena kita melihat intervensi hari ini di Yaman dan Bahrain oleh Iran dan Hizbullah," kata Hariri.

Dilansir dari Aljazirah, Hariri menyampaikan pernyataannya dari ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Ia berbicara di depan umum untuk pertama kalinya sejak pengunduran dirinya delapan hari yang lalu.

Berbicara pada Ahad (12/11) di Future TV, sebuah stasiun yang berafiliasi dengan partai politiknya, Hariri mengatakan bahwa dia bebas di Arab Saudi. “Di sini, di Kerajaan Arab Saudi, saya bebas, saya memiliki kebebasan penuh, tetapi saya juga ingin mengurus keluarga saya," katanya.

Ia menegaskan akan kembali ke Lebanon dalam waktu dua atau tiga hari. Dalam wawancaranya, Hariri mengaku menulis sendiri pidato pengunduran dirinya. Ia berkeras tidak dipaksa untuk mengundurkan diri.
"Saya ingin membuat kejutan positif bagi rakyat Lebanon sehingga orang-orang tahu betapa berbahayanya situasi yang kita hadapi," katanya.

Hariri juga mengatakan, saat kembali ke Lebanon, dia akan mengonfirmasi pengunduran dirinya sesuai dengan konstitusi negara tersebut. Hariri mengaku mengundurkan diri demi kepentingan nasional Lebanon. Ia berulang kali mengatakan, negara tersebut harus mematuhi kebijakan untuk melepaskan diri agar tidak terlibat dalam konflik regional.

Sebelumnya, pejabat tinggi Pemerintah Lebanon dan sumber-sumber senior yang dekat dengan Hariri percaya bahwa Arab Saudi memaksa Hariri untuk mengundurkan diri dan telah menempatkannya di bawah tahanan rumah sejak dia terbang ke Arab Saudi lebih dari sepekan yang lalu.

Hariri, seorang politisi Muslim Suni dan sekutu lama Arab Saudi, mundur sebagai perdana menteri Lebanon pada 4 November saat berkunjung ke Arab Saudi. Dalam pernyataan pengunduran dirinya yang dilakukan di Riyadh dan disiarkan televisi Pemerintah Saudi, Hariri menyalahkan campur tangan Iran dan Hizbullah di Lebanon.

Pengunduran diri Hariri hanya 11 bulan setelah dia menjabat. Keputusannya telah menjatuhkan Lebanon ke dalam ketidakpastian, mengancam stabilitas politik negara dan meningkatkan kekhawatiran atas sebuah krisis terbuka.

Ini juga memicu kekhawatiran akan adanya eskalasi di wilayah antara Iran dan negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, dengan Lebanon di garis depan. Hariri adalah bagian dari pemerintah persatuan yang juga mencakup faksi politik yang bersaing seperti yang didukung oleh Hizbullah, sebuah kelompok Syiah yang populer yang diwakili di parlemen Lebanon dan memiliki sayap bersenjata yang kuat.

Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, pada Jumat (10/11) mengatakan, Hariri ditahan di Arab Saudi dan pengunduran dirinya terpaksa dilakukan. Pengunduran diri Hariri dinilai tidak konstitusional karena dilakukan di bawah tekanan. Berbicara di Beirut, Nasrallah mengatakan, dia yakin Hariri terpaksa mengundurkan diri sebagai bagian dari kebijakan Arab Saudi untuk memicu ketegangan sektarian di Lebanon.

(Tulisan diolah oleh Yeyen Rostiyani).