Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Venezuela Usir Anggota Parlemen Uni Eropa

Senin 18 Feb 2019 18:11 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela di Central University of Venezuela di Caracas, Jumat (8/2).

Pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela di Central University of Venezuela di Caracas, Jumat (8/2).

Foto: AP Photo/Ariana Cubillos
Anggota Parlemen Uni Eropa diusir tepat saat mereka tiba di Venezuela.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Anggota Parlemen Uni Eropa mengaku diusir dari Venezuela tepat saat mereka tiba. Kementerian Luar Negeri Venezuela mengatakan para anggota parlemen Uni Eropa tersebut berencana membuat konspirasi di negara mereka.

"Hati-hati! paspor kami diambil dan kami diusir dari Venezuela. Perlakuan buruk dan satu-satunya penjelasan atas hal ini (Presiden Nicolas) Maduro tidak mau kami berada di sana," kata salah satu Anggota Parlemen Uni Eropa Gonzalez Pons di media sosial Twitter seperti dilansir di Sputnik, Senin (19/2).

Pons menambahkan jika pengusiran terjadi artinya pilihannya sudah final dan Uni Eropa harus menarik diri dari Contact Group. Sebelumnya, Uni Eropa membentuk Contact Group dengan negara-negara Amerika Latin untuk mencari solusi damai dalam krisis Venezuela.

Sementara itu, Venezuela sudah menanggapi pernyataan tersebut. Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza mengatakan tidak akan membiarkan segala tindakan provokatif di Venezuela.

"Berdasarkan jalur diplomatik, beberapa hari lalu otoritas Venezuela mendapat notifikasi  kedatangan sekelompok anggota parlemen Uni Eropa ke negara ini bertujuan untuk melakukan konspirasi yang mana tidak dapat diterima, mereka diminta untuk menghindari provokasi," kata Arreava.

Ketegangan di Venezuela semakin meningkat sejak tiga pekan lalu ketika ketua badan legislatif Venezuela National Assembly Juan Guaido mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai presiden sementara. Hal itu karena menurutnya Maduro mencurangi pemilihan umum tahun lalu.

Guaido didukung Amerika Serikat, Kanada, negara-negara besar Eropa, dan negara-negara Amerika Latin. Tapi, Rusia dan Cina tetap mendukung Maduro yang masih menguasai institusi negara Venezuela.

Uni Eropa mengakui Guaido setelah Maduro gagal memenuhi tenggat waktu yang mereka berikan untuk menggelar pemilihan umum yang baru. Sebelumnya Italia, Irlandia, dan Yunani menolak untuk mengakui Guaido tapi mereka tetap meminta pemerintah Venezuela untuk menggelar pemilihan umum ulang.

Maduro sudah mengatakan Guaido adalah boneka AS dan keputusan AS mengakui Guaido merusak hubungan AS-Venezuela. Meski ada beberapa perwira yang membelot tapi militer Venezuela masih setia dengan Maduro.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA