Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Rusia: AS Sengaja Kacaukan Venezuela

Jumat 29 Mar 2019 17:41 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Rakyat Venezuela mendengarkan pidato pemimpin oposisi Juan Guaido yang memproklamirkan diri sebagai presiden di Caracas, Venezuela, Kamis (28/3).

Rakyat Venezuela mendengarkan pidato pemimpin oposisi Juan Guaido yang memproklamirkan diri sebagai presiden di Caracas, Venezuela, Kamis (28/3).

Foto: AP Photo/Natacha Pisarenko
Krisis ekonomi di Venezuela memburuk hingga menjadi krisis kemanusiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemerintah Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) sengaja menabur kekacauan dan perselisihan di Venezuela. Hal itu dilakukan dengan menjatuhkan sanksi terhadap sektor pertambangan, minyak, dan emas negara tersebut.

“Semua itu (sanksi) dengan sengaja memicu kekacauan dan jatuhnya negara, yang tidak dapat menghasilkan pemenang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada Kamis (28/3), dikutip laman kantor berita Rusia TASS.

Dia mengaku ingin mengetahui apakah pejabat-pejabat di Washington menyadari hal itu. “Kami mengajukan pertanyaan tersebut dalam konteks negara lain, dan mendapati kami benar, untungnya atau sayangnya,” ujarnya.

Zakharova sempat ditanya tentang kehadiran ahli militer Rusia di Venezuela. Dia mengungkapkan para ahli militer itu akan tetap berada di Caracas meskipun AS mendesak negaranya untuk segera menariknya.

“Berapa lama (ahli militer Rusia berada di Venezuela)? Selama mereka membutuhkannya dan selama Pemerintah Venezuela membutuhkan mereka. Semuanya dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral,” kata Zakharova.

Venezuela diketahui sedang dilanda krisis ekonomi. Krisis semakin memburuk karena adanya perebutan kekuasaan di negara tersebut, yakni antara Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi Juan Guaido.

Guaido, yang telah memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela pada Januari lalu, menghendaki Maduro lengser dari jabatannya. Sementara Maduro masih bertekad mempertahankan kekuasaannya.

Dukungan dunia internasional pun terpecah kepada dua tokoh tersebut. AS, Israel, Australia, dan mayoritas negara anggota Uni Eropa membela kepemimpinan Guaido di Venezuela. Sedangkan Maduro memperoleh dukungan dari beberapa negara, antara lain Rusia, Cina, Turki, dan Kuba.

AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Caracas guna menekan pemerintahan Maduro. Sanksi AS menyebabkan Venezuela kehilangan pendapatannya, terutama dalam bidang penjualan minyak. Hal tersebut berdampak pula atas kian memburuknya situasi kemanusiaan di Venezuela.

Dalam menghadapi krisis kemanusiaan, Venezuela memperoleh bantuan dari sekutunya, terutama Rusia dan Kuba. Moskow diketahui telah mengirim berton-ton bantuan kemanusiaan berupa pangan dan obat-obatan.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA