Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Penyelidik Ethiopian Airlines Jatuh Ungkap Kesimpulan Awal

Sabtu 30 Mar 2019 08:55 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nur Aini

Petugas pencari menelusuri puing armada Ethiopian Airlines di Bishoftu, Debre Zeit, selatan Addis Ababa, Ethiopia, 11 Maret 2019.

Petugas pencari menelusuri puing armada Ethiopian Airlines di Bishoftu, Debre Zeit, selatan Addis Ababa, Ethiopia, 11 Maret 2019.

Foto: AP/Mulugeta Ayene
Ethiopian Airlines telah mengaktifkan sistem anti-stall sebelum pesawat jatuh.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Penyelidik menyatakan kecelakaan Boeing 737 MAX di Ethiopia telah mencapai kesimpulan awal. Sistem anti-stall atau disebut dengan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) telah diaktifkan sebelum pesawat jatuh.

Hal itu dibeberkan oleh Wall Street Journal, dengan mengutip para ahli yang memberikan pengarahan, Jumat (29/3). Penyelidik keselamatan Amerika Serikat (AS) telah meninjau data dari kotak hitam, empat orang diberikan pengarahan singkat soal penyelidikan.

Sistem anti-stall tergolong baru, yang dapat bekerja secara otomatis. Melalui fitur tersebut juga dapat melindungi pesawat dari 'stall', apabila bagian hidung pesawat terlalu tinggi.

Di sisi lain, penyelidik dari kecelakaan 737 MAX yang mematikan di Indonesia pada Oktober juga fokus pada sistem anti-stall yang baru. Sistem anti-stall diyakini telah berulang kali membuat hidung pesawat menukik ke bawah, karena informasi yang salah.
 
Sementara Boeing pada Rabu telah melakukan perbaikan pada perangkat lunak. Program ulang itu untuk mencegah kesalahan data yang dapat memicu sistem anti-stall.

Boeing menyatakan, MCAS tidak akan lagi berulang kali melakukan koreksi ketika pilot mencoba untuk mendapatkan kembali kendali. Kemudian secara otomatis akan terputus jika terjadi pertentangan antara dua sensor angle of attack (AOA).

Adapun Boeing 737 MAX telah ditangguhkan secara global oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dan regulator lainnya. Meskipun ada maskapai masih diperbolehkan menerbangkan, namun tanpa adanya penumpang untuk dapat memindahkan pesawat ke bandara.

Sementara itu, pada Rabu, kru AS menyatakan terdapat masalah kinerja darurat setelah lepas landas pada 737 MAX, dan kembali ke bandara Orlando, Florida dengan aman. FAA menyatakan sedang menyelidiki masalah tersebut, tetapi keadaan darurat itu tidak terkait dengan MCAS.

Regulator AS dan Eropa telah mengetahui, dua tahun sebelum kecelakaan di Indonesia terjadi, metode biasa untuk mengendalikan sudut hidung dari pesawat 737 MAX kemungkinan tidak bekerja, dalam kondisi yang serupa dalam dua bencana terakhir.

Pada Kamis, gugatan terhadap Boeing dilayangkan ke pengadilan federal Chicago oleh keluarga korban. Keluarga Jackson Musoni, seorang warga negara Rwanda dan Pegawai PBB yang meninggal dalam kecelakaan Ethiopian Airlines.

Gugatan tersebut menuding Boeing secara cacat merancang sistem kontrol penerbangan otomatis. Boeing menyatakan tidak dapat mengomentari gugatan keluarga korban ini.

Kualitas pelatihan yang diberikan Boeing dan maskapai penerbangan pada pilot 737 MAX merupakan salah satu masalah yang sedang diselidiki. Penyelidik di seluruh dunia turut mencoba menentukan penyebab masalah kecelakaan dua pesawat dalam waktu dekat.

Departemen Kehakiman AS kini tengah menyelidiki proses pengembangan Boeing dan ingin mengetahui apa yang diungkapkan Boeing perihal MCAS. Sementara Departemen Transportasi AS menyatakan pada Senin, komisi Blue-ribbon akan meninjau bagaimana FAA memberikan sertifikasi untuk pesawat baru.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA