Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Menag Kecam Tragedi Pengeboman di Sri Lanka

Senin 22 Apr 2019 07:10 WIB

Rep: Ali Yusuf/Nawir Arsyad/ Red: Muhammad Hafil

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin

Foto: Republika TV/Surya Dinata
Menag menilai tindakan pengeboman tersebut meyalahi ajaran agama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Serangkaian ledakan bom terjadi di tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka, Ahad 21/4). Ratusan orang dikabarkan meninggal dan  banyak lagi yang terluka. Ledakan terjadi saat umat Kristiani di Sri Lanka sedang merayakan Paskah.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengecam keras peristiwa tersebut. Ia mengapresiasi pihak berwajib Sri Lanka yang masih terus mengejar pelaku kejahatan tersebut.

"Siapapun pelakunya itu tindakan tidak berperikemanusiaan dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama," tegas Menag melalui siaran pers resminya di Jakarta, Ahad (21/4).

"Ironi, tragedi kemanusiaan terjadi justru di momen umat Kristiani sedang peringati hari besar keagamaannya. Kami turut berduka. Umat kristiani diharap tabah, tapi waspada, dan tetap menjadi pembawa damai bagi sesama," lanjutnya.

Menurut Menag, tindakan pengeboman itu jelas menyalahi ajaran agama. Sebab, tidak ada agama yang membenarkan tindak kekerasan, apapun motifnya.

"Itu jelas sikap pengecut dan tidak bertanggung jawab. Apalagi bom meledak di rumah ibadah, saat umat beribadah," tegas Menag.

Menag mengajak tokoh dan umat beragama untuk mendoakan yang terbaik buat korban di Sri Lanka. Menag juga minta masyarakat untuk menahan diri dan tidak emosional.

Menurutnya, saat ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus bekerja untuk mengetahui perkembangan kondisi di Sri Lanka. Termasuk memastikan kondisi keamanan warga negara Indonesia di sana.

"Mari tingkatkan kewaspadaan kita untuk terus menjaga keamanan dan kesucian rumah ibadah kita masing-masing," pesannya.

Ia juga mengingatkan para pengguna media sosial agar tidak terpancing dan turut menyebarluaskan informasi yang belum jelas kebenarannya. "Hindari menebar hoaks seputar tragedi Sri Lanka.  Penyebaran hoaks itulah yang diharapkan pelaku untuk menebar teror dan rasa takut," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA