Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Pemerintah Filipina Ancam Jurnalis

Senin 22 Apr 2019 18:02 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Jurnalis memberitakan keterlibatan keluarga Duterte dengan obat-obatan terlarang.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Pemerintah Filipina memberi peringatan kepada para jurnalis untuk tidak mencoba menekan dan‘menghancurkan Presiden Rodrigo Duterte. Dalam sebuah pernyataan, Senin (22/4), juru bicara pemerintah mengatakan banyak wartawan yang telah menyebarkan berita bohong.

Peringatan itu datang menyusul laporan berita beberapa waktu terakhir. Dalam berita tersebut, dikatakan keterlibatan keluarga Duterte dengan obat-obatan terlarang.

Selain itu, dalam berita tersebut juga diajukan pertanyaan mengenai kekayaan yang keluarga Duterte miliki. Keterlibatan dengan obat-obatan terlarang dicurigai sebagai salah satu faktor jumlah kekayaan mereka meningkat.

“Mereka semua (para jurnalis) mencoba menghancurkan pemerintah dengan menyebarkan berita palsu dan menanam intrik terhadap pemerintah,” ujar juru bicara Duterte, Salvador Panelo dalam sebuah konferensi pers pada Senin (2/2/4), dilansir The Strait Times.

Panelo kemudian merilis sebuah gambar yang dikatakan olehnya memperlihatkan seorang pria menuding peran keluarga Duterte dalam perdagangan narkotika. Video tersebut dibagikan oleh seorang jurnalis kepada jurnalis lainnya.

Hingga kemudian, seluruh media melaporkan tindakan keras Duterte dalam perang melawan narkotika dan menewaskan lebih dari 5.000 akibat tindakan aparat. Hal itu secara tegas telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia, yang menilai Duterte telah melakukan kejahatan kemanusiaan.

Panelo mengatakan tuduhan terhadap keluarga Duterte didasarkan pada informasi yang dibagikan oleh badan intelijen asing. Ia menegaskan tindakan itu sama dengan membantu musuh-musuh Filipina.

"Dengan kata lain, apa yang dilakukan orang-orang ini adalah memberi bantuan pada musuh atau mereka sendiri adalah musuh,” kata Panelo.

Panelo juga mengatakan para wartawan tidak akan dituntut untuk saat ini. Namun, jika mereka bertindak lebih jauh, maka Pemerintah Filipina tak akan segan memberi hukuman.

“Jika plot itu menebal dan mereka melakukan tindakan yang sudah melanggar hukum pidana, itu cerita yang berbeda," kata Panelo.

Pada pekan lalu, Duterte secara terbuka mengecam Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ), Filipina, yang menerbitkan laporan tentang kenaikan kekayaan bersihnya. Ia kemudian mengatakan akan memberikan balasan dan mengancam PCIJ untuk berhenti bergerak.

"Dalam beberapa minggu mendatang, saya akan membalas. Jadi PCIJ, Anda sebaiknya berhenti," kata Duterte.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA