Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Maduro Sebut Eropa Dukung Intervensi AS di Venezuela

Rabu 06 Feb 2019 09:31 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Foto: EPA-EFE/Miguel Gutierrez
Maduro menilai Eropa bertindak memalukan karena mendukung ancaman AS.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan negara-negara Eropa telah melakukan kesalahan karena mewakili pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden sementara. Menurut dia, di abad ke-21, hubungan antarnegara tentu tidak bisa dibangun atas dasar ultimatum.

Maduro menuturkan, krisis politik internal yang terjadi di negaranya didesain oleh Amerika Serikat. Dia mengatakan negara-negara Eropa terlihat memalukan karena mengikuti kebijakan yang keras kepala dan ekstrem dari AS. Bahkan memalukan juga bagi blok Amerika Latin yang mendukung Guaido.
 
"Suatu daerah diberikan waktu sepekan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai minat, Anda di bawah ancaman intervensi," kata Maduro dalam wawancara dengan saluran televisi Rusia, RT, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (6/2).
 
Maduro menegaskan, di Venezuela, hanya ada satu pemerintahan yang dipilih melalui pemilihan umum secara konstitusional dan telah bersumpah pada konstitusi serta sepenuhnya menjalankan fungsinya.
 
"Dan kepala pemerintahan ini adalah saya, pelayannya, Nicolas Maduro Moros. Semua selain itu, mereka hanya mencoba memaksakan kita pada sebuah komedi, sirkus," katanya.
 
Menurut Maduro, sebetulnya persoalan oposisi tersebut tidak dalam konteks pemilihan lagi. Sebab, dia telah menerima tuntutan oposisi untuk mengadakan pemilihan presiden pada 2017, dan itu diadakan berdasarkan konstitusi, secara transparan, langsung dan di hadapan pengamat internasional.
 
"Masalah oposisi bukan dalam mengadakan pemilihan umum (pemilu) lagi," katanya. "Tidak ada kekurangan dalam pemilihan di Venezuela, pemilu telah diadakan 25 kali dalam 20 tahun terakhir. Selama satu setengah tahun terakhir, pemilu telah diadakan enam kali," kata Maduro.
 
Maduro menambahkan, pemilu 2018 diadakan lebih awal dari jadwal atas saran oposisi. Sepanjang 2017, oposisi bersikeras agar pemilu awal tersebut terlaksana. Kemudian pada Desember 2017, Maduro memberitahu oposisi, bahwa pemilu akan dijadwal ulang. "Karena itu, tidak ada kekurangan dalam pemilu Venezuela," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA