Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Airbus Samai Rekor Boeing untuk Penjualan Pesawat ke Cina

Selasa 26 Mar 2019 11:56 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Pesawat Airbus A330 milik maskapai Cathay Pacific berada di parkir setelah mendarat darurat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Jumat (25/9).

Pesawat Airbus A330 milik maskapai Cathay Pacific berada di parkir setelah mendarat darurat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Jumat (25/9).

Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Airbus menjual 300 pesawat ke Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Airbus menandatangani kontrak senilai miliaran dolar AS dengan Cina. Dalam kunjungan Presiden Cina Xi Jinping ke Eropa, Airbus berhasil menjual 300 pesawat ke Cina.

Penjualan itu membuat produsen pesawat asal Eropa memiliki rekor yang sama dengan rival mereka dari Amerika Serikat (AS) Boeing dalam membuat kesepakatan dengan pemerintah Cina. Badan pembelian pemerintah Cina, China Aviation Supplies Holding Company, sepakat membeli pesawat 290 A320 dan pesawat lebar 10 A350.

Pada Selasa (26/3), pemerintah Prancis mengatakan berdasarkan katalog transaksi itu senilai 30 miliar uero. Biasanya pabrik pesawat akan memberikan diskon dalam pembelian jumlah besar.

Jumlah transaksi itu jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Dalam kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada 2017 lalu, Cina juga membeli 300 pesawat dari Boeing.

Pembelian Cina itu juga terjadi karena Boeing 737 Max masih belum pasti, menghilangkan harapan Boeing dapat menghangatkan hubungan dagang AS-Cina yang masih memanas. Tidak ada bukti langsung antara kesepakatan Airbus dengan ketegangan Cina-AS atau masalah Boeing 737 Max. Tapi, biasanya Cina menggunakan pembelian pesawat sebagai sinyal diplomatik.

"Konklusi kontrak besar (penerbangan) ini langkah maju yang penting dan sinyal yang sangat baik dalam konteks sekarang ini," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pernyataan gabungannya dengan Xi Jinping.

Amerika Serikat dan Cina sedang dalam proses kesepatan untuk menghentikan perang dagang dan transaksi yang melibatkan pembelian 200 sampai 300 pesawat Boeing. Transaksi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan antar-kedua negara. Cina juga mengkandangkan pesawat Boeing 737 Max 8 setelah kecelakaan Ethiopian Airlines, seperti negara-negara lain di seluruh dunia.

President of Airbus's Commercial Aircraft Business Guillaume Faury tidak menjawab dengan tegas pertanyaan apakah kesepakatan ini dorong atas peristiwa Boeing 737 Max 8. "Ini kerja sama jangka panjang dengan rekan kami Cina yang berkembang seiring waktu, ini tanda kuatnya kepercayaan Cina," katanya.

Airbus sudah lama mengincar Cina dan kesepakatan itu membuat mereka mengungguli Boeing. Tapi apakah Airbus atau Boeing terlibat dalam kesepakatan diplomatik para pakar mengatakan kesepakatan diplomatik sering kali campuran antara permintaan baru, permintaan lama yang diulang kembali dan kredit terhadap kesepakatan di masa depan, artinya dampak transaksi terhadap kesepakatan diplomatik tidak selalu jelas.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA