REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO -- Situasi di Mali semakin memburuk setelah tentara Prancis masuk ke negara tersebut untuk melawan oposisi.
Sedikitnya 380 ribu orang mengungsi setelah empat pekan perang berlangsung. Dilaporkan PressTV, sekitar 700 pengungsi Mali telah tinggal di Nigeria sejak 11 Januari 2013. Saat itu, Prancis melancarkan serangan melawan Mali dengan dalih menghentikan oposisi.
Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belgia, Jerman, dan Denmark menyatakan mendukung perang Prancis tersebut. Sementara Nigeria, Mauritania, dan Burkina Faso menyediakan tempat penampungan bagi para pengungsi Mali. Namun, para pengungsi itu menghadapi kekurangan pangan, bahan bakar, dan air di kamp pengungsian.
Konflik tersebut menimbulkan masalah pelanggaran hak asasi manusia. Human Right Watch menyerukan adanya investigasi terhadap dugaan pembunuhan balasan yang dilancarkan tentara Prancis dan Mali. Mereka juga menyerukan tentara Prancis untuk meminimalisasi korban Sipil.
Sementara Pasukan batalyon dari Nigeria dan Togo tiba di Kota Gao, Mali untuk memperkuat Prancis. Kota ini dikuasai oposisi pemerintah selama hampir 10 bulan, tapi disita militer Prancis pekan lalu.
Dewan Keamanan PBB tengah mempertimbangkan rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian untuk membantu pasukan Prancis. Sejumlah pihak curiga serangan Prancis ke Mali untuk mengeksploitasi sumber daya yang belum dimanfaatkan termasuk minyak, emas dan uranium.