Ahad 24 Apr 2016 19:24 WIB

Setahun Gempa Nepal, Pembangunan Nihil

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: M Akbar
Tim evakuasi gempa Nepal
Foto: uchaguzi.co.ke
Tim evakuasi gempa Nepal

REPUBLIKA.CO.ID, KATHMANDU -- Nepal mengenang tragedi gempa yang menewaskan sekitar 9.000 orang tahun lalu, Ahad (24/4). Keluarga korban yang masih berduka melakukan penghormatan di seluruh penjuru negeri.

Gempa berkekuatan 7,8 SR itu mengguncang Himalaya pada Sabtu, 23 April 2015. Gempa membuat salju dan es di pegunungan longsor hingga mengubur jutaan rumah. Jalan-jalan terputus dan ratusan desa di pegunungan hancur.

Sekitar 9.000 orang dipastikan tewas dan 22 ribu orang lainnya terluka. Di Kathmandu, Perdana Menteri Nepal, K.P. Oli memimpin sehari berkabung dan menempatkan karangan bunga di sisa-sisa tugu Dharahara yang juga rubuh selama gempa.

Di Alun-alun Durbar, ratusan biarawan melakukan doa. Sementara keluarga para korban duduk di sekitarnya sambil berdoa di depan foto korban. "Saya datang untuk mengenang ayah saya, saya berdoa untuk kedamaian jiwanya," kata Surya Bahadur Shrestha yang ikut berdoa.

Satu tahun setelah gempa, pembangunan kembali kota sangat lambat. Sekitar 4,1 miliar dolar AS donasi untuk rekonstruksi masih belum habis karena masalah politik. Sekitar 100 orang melakukan protes di depan kantor PM meminta pembangunan kembali.

Palang Merah mengatakan empat juta orang masih hidup di tempat penampungan sementara yang kualitasnya buruk. Hal ini dinilai mengancam kesehatan dan kebaikan mereka.

"Kami berharap, pemerintah memprioritaskan rekonstruksi secepatnya sehingga kami bisa membantu mereka membangun kembali hidup mereka," kata Kepala misi Federasi Palang Merah Internasional Nepal, Max Santner.

Otoritas mengatakan pada Januari bahwa pemerintah telah memberikan 500 dolar AS pada 800 orang yang terkena imbas gempa. Padahal sebelumnya pemerintah menjanjikan 2.000 dolar AS untuk setiap rumah tangga korban gempa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement