Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Duterte Resmi Jadi Presiden Filipina

Kamis 30 Jun 2016 13:29 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Ani Nursalikah

Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte

Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Rodrigo Duterte pada Kamis (30/6), resmi dilantik sebagai Presiden Filipina. Pelantikannya mengundang beragam respons, dari harapan ia bisa membawa energi baru bagi Filipina hingga kekhawatiran kepemimpinannya akan mengancam demokrasi di negara tersebut.

Mantan jaksa dan Wali Kota Davao itu akan memulai masa jabatan enam tahunnya sebagai presiden. Duterte selama ini menarik perhatian dengan janji-janji kerasnya untuk membersihkan Filipina dari penjahat dalam enam bulan masa pemerintahannya.

Tak lama setelah kemenangan Duterte dalam pemilihan umum, polisi melancarkan operasi keras antinarkoba di bawah namanya. Operasi ini membuat puluhan tersangka narkoba miskin tewas dalam baku tembak dengan polisi atau tewas secara misterius.

Baca: Dilantik Jadi Presiden Filipina, Duterte Bersumpah Habisi Kriminal

Beberapa hari sebelum pelantikan, Duterte juga sempat mengancam para penjahat. Pria 71 tahun itu mengatakan para penjahat akan menemui kematian mereka jika tak segera berbuat kebaikan.

"Jika Anda menghancurkan negara saya, saya akan membunuh Anda," katanya dalam pidato saat upacara pengibaran bendera terakhir dirinya sebagai Wali Kota Davao.

Di sebuah negara yang lama di bawah pemerintahan klan politik kaya, Duterte bangkit dari akar kelas menengah. Ia membangun reputasinya dalam kampanye dengan pidato-pidato penuh kutukan dan lelucon seksual.

Gaya pidatonya yang kontroversial bahkan membuatnya disamakan dengan calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump. Meski Duterte menolak dibandingkan dengan Trump dan mengatakan miliader AS tersebut orang yang fanatik agama sementara ia tidak.

Wakil Presiden Leni Robredo dilantik dalam upacara terpisah sebelumnya. Robredo merupakan pengacara hak asasi manusia yang berasal dari partai politik saingan. Ia belum bertemu Duterte sejak pemilihan umum pada 9 Mei lalu.

 

Baca: Trump Ingin Ada Penyiksaan Waterboarding Bagi Anggota ISIS

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA