Rabu 10 Aug 2016 20:08 WIB

NATO Berharap Turki tak Terlalu 'Mesra' dengan Rusia

Rep: MgRol81/ Red: Teguh Firmansyah
Russian President Vladimir Putin and Turkish President Tayyip Erdogan attend their meeting in St. Petersburg, Russia, August 9, 2016. REUTERS/Sergei Karpukhin
Foto: Sergei Karpukhin/REUTERS
Russian President Vladimir Putin and Turkish President Tayyip Erdogan attend their meeting in St. Petersburg, Russia, August 9, 2016. REUTERS/Sergei Karpukhin

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Peterburg, Rusia, Selasa (9/8) bisa menjadi mimpi buruk bagi Eropa, Amerika Serikat, dan NATO. Ini mengingat selama ini Turki merupakan bagian dari sekutu Barat dalam berbagai persoalan Timur Tengah, termasuk Suriah.

Namun Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier menyatakan bahwa Turki tetap mitra penting bagi NATO. Ia berharap hubungan Turki dan Rusia tak semakin dekat.

"Untuk melihat (Turki dan Rusia) menjadi lebih dekat itu bagus,” ujar Steinmeier pada surat kabar Jerman Bild. “Tapi saya tidak berharap kedua negara semakin dekat. Turki adalah mitra penting bagi NATO” tambahnya. NATO khawatir Rusia akan menawarkan alternatif yang membuat Turki berpaling kemitraannya dengan NATO.

Seperti dilansir RBTH, KTT NATO di Warsawa pada awal Juli lalu, yang juga dihadiri Erdogan, menuai pujian karena menandai persatuan anggota NATO melawan ‘agresi Rusia’.

Namun Selasa kemarin (9/8), Turki yang merupakan anggota NATO terang-terangan bergerak ke arah timur, menunjukkan ia memiliki kepentingan bersama dengan Rusia. Bagi Barat dan NATO, hal ini akan menambah tekanan geopolitik.

Hubungan Turki, Amerika, dan Eropa memanas sejak terjadinya kudeta 15 Juli lalu. Erdogan telah berulang kali menuduh AS berperan aktif dalam upaya kudeta serta bersimpati dengan komplotan kudeta. Erdogan menyebut mantan sekutunya Fethullah Gulen, hanya sebagai "pion".

Baca juga, Turki Merapat ke Rusia.

Erdogan pun tak mendapat dukungan dari Uni Eropa, yang memandang rezimnya melanggar hak asasi manusia. Eropa mengecam keputusan Erdogan menangkap 18 ribu tentara dan memecat lebih dari 100 ribu pegawai di Turki setelah kudeta 15 Juli.

Kini Turki secara terang-terangan memulihkan hubungannya dengan Rusia. Kedua negara diisukan akan melanjutkan proyek-proyek yang sempat tertunda. Salah satunya adalah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Akkuyu dan proyek Turkish Stream yang akan mengalirkan gas alam dari Rusia ke Turki lewat Laut Hitam.

"Hari ini kami memiliki kesempatan untuk membicarakan seluruh bidang dalam hubungan antarnegara ini, termasuk pada pemulihan hubungan perdagangan dan ekonomi, serta kerja sama dalam memerangi terorisme," ucap Putin. “(Saya) sangat senang atas kesempatan ini,”

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement