Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Duterte Minta Abu Sayyaf Hentikan Penculikan dan Ajak Berunding

Sabtu 26 Nov 2016 04:55 WIB

Red: Ani Nursalikah

Philippine President Rodrigo Duterte delivers a speech during the Philippines-China Trade and Investment Forum at the Great Hall of the People in Beijing Thursday, Oct. 20, 2016.

Philippine President Rodrigo Duterte delivers a speech during the Philippines-China Trade and Investment Forum at the Great Hall of the People in Beijing Thursday, Oct. 20, 2016.

Foto: Wu Hong/Pool Photo via AP

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Jumat (25/11), mengulurkan tawaran perdamaian kepada Abu Sayyaf dengan meminta kelompok pemberontak itu mulai berunding dengannya serta menghentikan pembajakan dan penculikan.

Beberapa bulan sebelumnya, Duterte sempat mengatakan tidak akan ada penyelesaian damai dalam menghadap Abu Sayyaf.

Namun, sementara pasukan berkekuatan 10 ribu personel di Filipina selatan tidak mampu mengendalikan penyanderaan dan keamanan warga sipil bisa terancam, Duterte mengatakan perang habis-habisan bukan jawabannya.

"Saya bisa saja jahat, tapi ini soal bangsa. Bisa saja saya lakukan saat ini juga," kata Duterte soal menghabisi Abu Sayyaf, setelah ia mengunjungi para prajurit yang terluka ketika berperang melawan para milisi.

"Saya bisa saja mengebomi mereka... tapi apa manfaatnya untuk kita? (Kalau ada yang) membunuh 20 ribu orang, lalu kita menghabisi mereka (pelaku), mengebom mereka sampai mati. Apakah akan membawa perdamaian kalau saya menggunakan kekuatan?

"Kalau ingin berunding, saya bisa bertemu mereka di mana saja. Saya bisa pergi sendiri. Kasih rakyat kita kesempatan," ujarnya.

Abu Sayyaf, yang memiliki kubu kekuatan di pulau Jolo dan Basilan, saat ini sedang menyandera 22 orang yang sebagian besarnya merupakan warga asing. Kelompok itu menuntut tebusan puluhan ribu dolar bagi pembebasan para sandera.

Kelompok Abu Sayyaf awal tahun ini melakukan pemenggalan kepala terhadap dua sandera asal Kanada yang mengundang kecaman dari dunia internasional. Duterte telah meluncurkan proses perdamaian di seluruh negeri dengan para pemberontak Mao serta kelompok-kelompok separatis bersenjata dengan tujuan untuk menerapkan federalisme di Filipina.

Namun, ia mengatakan proses tersebut tidak melibatkan milisi Abu Sayyaf karena kelompok itu adalah musuh negara yang kejam dan telah membunuhi orang-orang tak bersalah karena uang. Pada Jumat, Duterte mengatakan perundingan bisa dilangsungkan jika para pemberontak berhenti melakukan aksi-aksi ilegal mereka.

"Saya akan membangun sebuah rumah sakit di Basilan, jangan culik para pekerja, biarkan mereka bekerja. Kalau kalian (kelompok pemberontak) bisa benar-benar berhenti (melakukan aksi ilegal), mari kita berunding," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA