Sabtu 04 Feb 2017 15:09 WIB

Warga Australia Demo Kecam Perintah Eksekutif Trump

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah
Warga Australia berdemo di Sydney, 4 Februari 2017. Mereka menentang perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump dan mendesak kamp pengungsi Australia ditutup.
Foto: REUTERS/David Gray
Warga Australia berdemo di Sydney, 4 Februari 2017. Mereka menentang perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump dan mendesak kamp pengungsi Australia ditutup.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Ribuan demonstran berunjuk rasa di seluruh Australia pada Sabtu (4/2) mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut pembatasan sementara kepada pengungsi dan warga dari tujuh negara mayoritas Muslim. Mereka juga menuntut diakhirinya penahanan pencari suaka lepas pantai Australia.

Sekitar 1.000 orang berkumpul di Sydney memprotes perintah eksekutif Trump pada imigrasi dan meminta Australia menutup kamp pengungsi di lepas pantai di pulau Pasifik kecil Nauru dan Pulau Manus di Papua Nugini.

Protes serupa diadakan di Canberra, Newcastle dan Hobart. Sementara ratusan menghadiri kampanye anti-Trump di Melbourne, Jumat (3/2).

Hubungan AS dan Australia tegang setelah adanya pembicaraan via telepon antara Trump dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull pada Kamis (2/2). Trump mengatakan kesepakatan antara kedua negara tentang pemukiman pengungsi adalah hal bodoh.

Di bawah kesepakatan yang dianggap bodoh itu, Amerika Serikat akan mengambil sekitar 1.250 pencari suaka yang ditahan di Nauru dan Manus. Sebagai imbalannya, Australia akan mengambil pengungsi dari El Salvador, Guatemala dan Honduras.

Dengan enggan Trump mengatakan ia berencana memenuhi kesepakatan itu. Namun sebuah sumber mengatakan kepada Reuters pada Jumat (3/2), pejabat imigrasi AS telah menunda wawancara dengan pencari suaka di Nauru.

Di Sydney, pengunjuk rasa membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan "penyiksaan pengungsi, memalukan Australia" dan "Tidak ada dinding, tidak ada kamp-kamp, ​​tidak ada larangan."

"Australia tidak boleh mencoba menipu orang dengan pemerintah mempertimbangkan masalah ke AS. Kami memiliki solusi di sini," kata pengunjuk rasa Beverley Fine (62 tahun).

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement