Rabu 19 Apr 2017 10:32 WIB

AS Pertimbangkan Opsi Tembak Jatuh Rudal Korut

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden AS Donald Trump.
Foto: AP Photo/Evan Vucci
Presiden AS Donald Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan untuk menembak jatuh rudal Korea Utara (Korut) bila mereka melakukan pengujian rudal kembali. Hal itu dilakukan agar Korut dapat melihat bahwa AS dapat memaksakan konsekuensi militer ketika mereka tetap mengembangkan program nuklirnya.

Juru Bicara Pentagon Gary Ross mengatakan saat ini AS sedang menjajaki setiap opsi untuk menekan Korut agar menghentikan program rudal nuklirnya. "Kami sedang menjajaki berbagai (strategi) diplomatik baru, keamanan, dan langkah-langkah ekonomi. Semua opsi ada di meja," katanya seperti dilaporkan lama  The Guardian, Rabu (19/4).

Sejumlah pejabat AS mengatakan salah satu opsi yang sedang didiskusikan adalah menembak jatuh rudal Korut ketika mereka melakukan pengujian kembali. Menteri Pertahanan AS James Mattis disebut telah diberitahu Kongres terkait opsi ini. Tetapi militer AS memang belum memutuskan apakah akan menggunakan opsi tersebut.

Kabar tentang penggunaan opsi menembak jatuh rudal Korut tersebut menuai beragam reaksi, salah satunya Abraham Denmark, mantan pejabat senior Pentagon untuk Asia pada masa pemerintahan Barack Obama.

Ia menilai, bila AS menggunakan opsi menembak jatuh rudal Korut tentu akan terjadi eskalasi ketegangan. "Saya akan melihat tindakan seperti itu (menembak jatuh rudal) sebagai eskalasi. Tapi saya tidak bisa menebak bagaimana Kim Jong-un akan menafsirkannya (tindakan tersebut)," ungkapnya.

Ia menilai, Kim Jong-un tentu akan bereaksi keras. "Saya akan mengkhawatirkan dia akan bereaksi keras karena ia tidak ingin tampak lemah," ujar Denmark.

Ide tentang menembak jatuh rudal Korut ketika mereka melakukan uji coba memang tidak muncul pada pemerintahan AS saat ini saja. Pemerintahan-pemerintahan sebelumnya juga pernah mempertimbangkan opsi ini. Namun akhirnya opsi ini urung digunakan sebab dinilai dapat memprovokasi musuh.

Kendati demikian ketika mengunjungi Korea Selatan (Korsel), Wakil Presiden Mike Pence mengatakan bahwa masa kesabaran strategis untuk Korut telah berakhir. Ia juga memperingatkan sebaiknya Korut tidak perlu menguji kembali tekad Presiden AS Donald Trump yang siap menempuh aksi militer bila mereka tetap mengembangkan program rudal nuklirnya.

Wakil Menter Luar Negeri Korut Han Song-ryol menegaskan, Korut tidak akan menghentikan program pengembangan rudal nuklirnya. Bahkan Korut, kata dia, akan melakukan pengujian rudal secara mingguan, bulanan, dan tahunan. "Perang habis-habisan akan terjadi jika AS mengambil tindakan militer," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement