Selasa 11 Jul 2017 22:51 WIB

Terkait Krisis Teluk, AS Sebut Posisi Qatar Masuk Akal

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson.
Foto: REUTERS/Kevin Lamarque
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson menilai posisi Qatar terkait krisis Teluk cukup masuk akal. Pernyataannya berkaitan dengan tuduhan beberapa negara Teluk dan keengganannya memenuhi tuntutan yang diajukan kepadanya.

"Saya pikir Qatar cukup jelas dalam posisinya dan saya pikir mereka sangat masuk akal," ujar Tillerson seperti dilaporkan laman Aljazirah, Selasa (11/7).

Tillerson memang sedang berada di Doha untuk membicarakan krisis antara Qatar dengan beberapa negara Teluk. Ketika tiba di Doha, ia terlebih dulu bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani sebelum menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani.

Sebelum tiba di Qatar, Tillerson telah mengunjungi Arab Saudi dan Kuwait. Di Kuwait, Tillerson dilaporkan berdiskusi dengan Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah dan pejabat senior lainnya.

Al-Sabah mengaku dirinya membicarakan tentang upaya penyelesaian krisis Teluk dengan Tillerson. Kuwait memang menjadi mediator dalam krisis ini. "Kami mencoba menyelesaikan sebuah isu yang tidak hanya menyangkut kita, tapi seluruh dunia," ujar al-Sabah.

Pada Rabu (12/7), Tillerson akan bertemu dengan para menteri luar negeri dari negara-negara pemboikot Qatar di Jeddah, Arab Saudi. Tillerson, menurut pejabat AS, akan mengupayakan jalur perundingan untuk mengakhiri krisis di Teluk.

Pada 5 Juni lalu, Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan memblokade seluruh akses dari dan menuju negara tersebut. Hal itu dilakukan karena keempat negara menuduh Qatar menjadi pendukung dan penyokong kelompok ekstremis dan teroris di Teluk. Tuduhan tersebut segera dibantah oleh Doha.

Belakangan negara-negara Teluk mengajukan 13 tuntutan kepada Qatar. Tuntutan tersebut harus dipenuhi bila Qatar ingin terbebas dari blokade dan embargo. Namun Qatar telah menyatakan poin-poin dalam tuntutan tersebut tidak realistis dan mustahil dipenuhi. Qatar bahkan menyatakan tuntutan itu merupakan intervensi terhadap kedaulatannya.

Adapun tuntutan tersebut antara lain meminta Qatar memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, menghentikan pendanaan terhadap kelompok teroris, dan menutup media penyiaran Aljazirah.

Baca: Tillerson Tiba di Qatar Bahas Krisis Teluk

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement