Selasa 21 Aug 2018 10:35 WIB

Perang Dagang Turki-AS, Cavusoglu: Ini Harus Dihentikan!

Sanksi AS ke Turki telah merusak atmosfer kerja sama.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.
Foto: Matthias Balk/dpa via AP
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, perang dagang yang sedang dihadapi negaranya dan Amerika Serikat (AS) tidak hanya merusak perekonomian kedua negara. Menurutnya, hal itu juga berimbas dan merugikan Eropa.

Cavusoglu mengemukakan kembali peringatan yang telah dinyatakan Kamar Dagang AS bahwa keputusan Presiden Donald Trump menaikkan tarif masuk membahayakan ekonomi AS dan merusak kepemimpinan global Amerika. 

“Eskalasi nekat ini perlu dihentikan,” katanya dalam sebuah kolom opini di USA Today pada Senin (20/8), dikutip laman Anadolu Agency.

Ia menilai, sanksi AS telah merusak atmosfer kerja sama dengan Turki. Padahal ancaman global saat ini menunut negara-negara saling memperkuat, bukan melemahkan.

“Demi semua orang, kita harus mengatasi ketidaksetujuan kita dengan diplomasi, daripada ancaman dan provokasi, dan dengan komitmen terhadap fakta dan perpektif,” ujar Cavusoglu.

Baca juga, Trump Ancam Sanksi Berat Turki.

Perang dagang antara AS dan Turki dipicu kasus Andrew Brunson. Ia adalah seorang pendeta asal AS yang kini ditahan oleh Ankara. Brunson dituduh terlibat organisasi teroris dan percobaan kudeta terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dua tahun lalu.

AS telah berulang kali menyerukan Turki untuk membebaskan Brunson. Namun seruan itu selalu diabaikan. Trump akhirnya memutuskan menjatuhkan sanksi ekonomi, yaitu meningkatkan bea masuk atas impor alumunium dan baja dari Turki, masing-masing menjadi 20 persen dan 50 persen. 

Sanksi itu kemudian dibalas Turki dengan tindakan serupa. Ankara menaikkan tarif masuk terhadap sejumlah produk AS, seperti mobil, minuman beralkohol, beras, kosmetik, dan produk tembakau. Tak tanggung-tanggung, tarif masuk untuk produk-produk itu dinaikkan hingga 100 persen.

AS telah mengancam akan memberlakukan sanksi ekonomi lanjutan terhadap Turki bila Brunson tak kunjung dibebaskan. Namun Ankara menyatakan siap menghadapi dan membalas sanksi-sanksi tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement