Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Theresa May Minta Dukungan Partai Konservatif

Ahad 30 Sep 2018 18:48 WIB

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Nidia Zuraya

Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Foto: Richard Pohle/Pool via AP Photo
Theresa May mendapat hujatan terkait recana Brexit

REPUBLIKA.CO.ID, BIRMINGHAM -- Perdana Menteri Inggris theresa may meminta seluruh anggota Partai Konservatif untuk mendukung rencana Brexit yang telah ia buat. May mengatakan rencana Brexit yang disebut sebagai rencana Chequers masih bernafaskan perdagangan bebas.

"Pesan untuk partai saya mari bersatu dan membuat keputusan yang terbaik untuk Inggris," kata May kepada BBC, Ahad (30/9).

Sebelum konferensi Partai Konservatif yang digelar pada tanggal 30 September sampai 3 Oktober, rencana Brexit May mendapatkan badai hujatan. Ia diserang oleh dua mantan menterinya yakin mantan Menter Luar Negeri Inggris Boris Johnson yang menyebut rencana tersebut 'gila' dan mantan Menteri Brexit David Davis.

Tinggal enam bulan lagi sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa. Sebuah perubahan kebijakan dan perdagangan luar negeri terbesar selama 40 tahun. Bagaimana Inggris keluar dari Uni Eropa masih menjadi perdebatan di Partai Konservatif dan juga pemerintah Inggris sendiri.

"Jantung dari rencana Chequers adalah perdagangan bebas, wilayah perdagangan bebas dan perdagangan tanpa konflik, saat ini rencana Chequers satu-satunya rencana yang tersedia untuk Brexit dan juga untuk orang-orang Irlandia Utara," tambah May.

Penolakan Uni Eropa rencana Brexit tersebut memberikan tekanan kepada kepemimpinan May sudah rapuh. Tapi ia menerima penolakan tersebut dengan positif dengan menyatakan siap menerima usulan Uni Eropa.

May menunjukan sedikit  perubahan dalam rencana Chequers. Rencana yang merujuk pada kediaman Perdana Menteri Inggris. Rencana yang dibuat bersama menteri-menterinya pada bulan Juli lalu dikritik karena memberikan penawaran yang sangat buruk kepada semua pihak.

Boris Johnson yang mengundurkan diri setelah perjanjian Chequers disepakati mengatakan rencana tersebut gila. Ia juga berulang kali menyerang May dan menyebutnya tidak yakin dengan Brexit.

"Tidak seperti Perdana Menteri saya mengkampanyekan Brexit, tidak seperti Perdana Menteri saya berjuang untuk ini, saya yakin, saya pikir ini hal yang benar dilakukan untuk Inggris dan saya pikir apa yang terjadi sekarang, duh, tidak seperti yang dijanji pada tahun 2016," kata Jonhson.

David Davis mantan Menteri Brexit yang juga mengundurkan diri mengatakan rencana Brexit May sangat tidak benar. Tapi menurutnya sekitar 80 sampai 90 persen pemerintah Inggris saat ini akan menyetujui kesepakatan tersebut dengan Uni Eropa.

Tim kampanye May berharap konferensi Partai Konservatif akan menjadi wadah baginya untuk memperbaharui janji membantu orang-orang baru yang mengelola partai tersebut. Konferensi ini juga diharapkan dapat mengubah fokus Inggris dari Brexit ke urusan domestik.

Tapi pengumuman adanya tambah retribusi atau pungutan untuk pembeli rumah dari luar negeri mengubah arah pembicaraan di Inggris. Brexit, kampanye dan pemilu menjadi fokus utama rakyat dan komentator di Inggris.

Banyak yang melihat kritik Boris Johnson di media massa Inggris the Sunday Times sebagai upaya untuk menggulingkan May dari kursi perdana menteri. Tentu hal tersebut menjadi persoalan bagi para pendukung May di Partai Konservatif yang tidak menyukai mantan Menteri Luar Negeri tersebut.

May tidak bersedia menanggapi kritik dari Johnson. Ia juga tidak menyebutkan namanya di wawancara panjang yang ia lakukan dengan BBC. Ia hanya menanggapi tajam kritikan Johnson tersebut.

"Saya yakin dengan Brexit, tapi yang terpenting saya yakin menjalankan Brexit  dengan cara menghargai suara dan memberikan suara kepada orang-orang Inggris sementara melindungi serikat pekerja, pekerjaan kami dan memastikan Brexit sukses di masa depan," kata May.

Ketua Partai Konservatif Skotlandia Ruth Davidson mengatakan ia masih yakin May bisa memenangkan kesepakatan dengan Uni Eropa. Dalam pertemuan Uni Eropa di Salzburg Davidson mengatakan ia dan partainya yakin pemerintah Inggris bekerja bersama-sama untuk mensukseskan Brexit.

"Saya pikir masih ada dasar kesepatan yang masih bisa dilakukan," kata Davidson. 

Sementara itu Ketua Partai Konservatif Brandon Lewis mengatakan ia yakin May akan kembali menang pada pemilu tahun 2022. Hari pertama konferensi Partai Konservatif membahas tentang politik Inggris di luar negeri. Baru pada hari kedua dan ketiga membahas tentang persoalan dalam negeri.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA